AI bisa digunakan untuk moderasi beragama
AI membuka peluang membangun kehidupan beragama lebih baik, bukan menjadi distorsi.
Artificial Intelligence (AI) merupakan teknologi disruptif dengan kata lain memberikan dampak. Dengan latar belakang bahwa teknologi itu diadopsi, kemudian dibawa ke dalam sebuah ekosistem. Tentu saja teknologi tersebut harus dilekatkan ke dalam sendi-sendi kehidupan.
Demikian dikemukakan Ketua Kolaborasi Riset dan Inovasi Kecerdasan Artifisial Indonesia (Korika) Hammam Riza, saat memaparkan pandangannya di “Ruang Temu AI dan Agama Menyongsong Masa Depan Kehidupan Beragama di Era AI” di kantor DPP PKB, Jakarta belum lama ini.
"Tahun 2003 AI sudah merambah dalam kehidupan masyarakat yang kita sebut sebagai generatif AI. Tetapi AI bukan sesuatu yang baru, seperti Chat GPT, Microsoft Copilot, Antropic Cloud," paparnya.
Hammam melanjutkan, ke depan kita akan menghadapi Artificial Super Intelligence atau General Intelligence. Apakah teknologi itu dibenturkan atau disandingkan dengan agama? Itu menjadi pertanyaan penting.
Menurutnya, ada persinggungan antara pemanfaatan teknologi, apakah teknologi menguatkan atau menambah keimanan kita, kedekatan kita atau sebaliknya menjauhkan kita dari agama itu sendiri.
AI lanjut dia, memberikan inovasi, efisiensi, analitik dan otomatisasi. Sedangkan agama memberikan akhlak, empati, keadilan, kejujuran dan kemanusiaan. Apakah AI memberikan jawaban yang sudah berakhlak, bertanggung jawab, terpercaya, itu semua adalah nilai-nilai kemanusiaan.
"AI yang kita jalankan haruslah AI yang bertanggung jawab. Kementerian Komdigi sudah memiliki peta jalan AI ke depan. Adalah AI yang bertanggung jawab, inklusif, karena AI seperti halnya internet menjadi sebuah keniscayaan," katanya.
Ditambahkan Hammam, apabila ditemukan ujaran kebencian, hoaks, kira-kira siapa yang bertanggung jawab, apakah AI atau manusianya yang membuat konten itu.
Jika dikaitkan dengan agama, lanjut dia, maka AI yang digunakan sekali lagi adalah AI yang bertanggung jawab, terpusat kepada kemanusiaan, bisa dipercaya dan moderasi beragama. AI menurutnya, bisa membuka peluang membangun kehidupan beragama yang lebih baik, bukan menjadi distorsi.
"Kenapa demikian, AI itu potensi dan yang mengendalikan potensi itu adalah kita, manusia. Peradaban tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga mementingkan nilai kemanusiaan," tegasnya.