Bulan Suro, Amerika, Iran dan harapan dunia
Jangan bahas Israel agar kiamat tak terlalu dekat.
Bulan Suro atau Tahun Baru Hijriah yang kini bertepatan dengan 1448 H, dapat dimaknai masyarakat Jawa sebagai momentum introspeksi, menata hati, memperbaiki diri, dan memanjatkan doa agar kehidupan pada tahun yang baru menjadi lebih baik.
Suro bukan sekadar pergantian kalender, tetapi juga simbol harapan bahwa setelah berbagai kesulitan akan datang kemudahan, setelah kegaduhan akan hadir ketenangan.
Tahun ini, banyak orang menyambut datangnya Bulan Suro dengan rasa syukur. Ada perayaan obor berkeliling, ada perayaan shalawat, ada tumpengan, dan ada yang merayakan dengan cara bersemedi atau menepi untuk introspeksi mencari jati diri.
Di tengah berbagai ketidakpastian global yang selama beberapa tahun terakhir menghantui masyarakat dunia, muncul kabar-kabar yang membawa optimisme. Ketegangan geopolitik yang sempat mengganggu stabilitas ekonomi dunia mulai mereda.
Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan damai dan kerangka penghentian konflik yang membuka jalan bagi stabilitas kawasan Timur Tengah. Kesepakatan tersebut tentu saja dapat mengembalikan kelancaran jalur perdagangan energi dunia dan menurunkan tekanan pada harga minyak global.
Dunia tanpa perang memang terasa lebih nyaman. Ketika bom tidak lagi berjatuhan, kapal-kapal dagang dapat berlayar dengan aman, investor kembali percaya diri, dan roda perekonomian berputar lebih sehat. Harga minyak yang turun memberikan harapan bagi stabilitas harga kebutuhan pokok.
Nilai tukar dolar yang lebih terkendali membuat banyak negara berkembang dapat bernapas lebih lega termasuk Indonesia. Pasar modal kembali bergairah, indeks saham bergerak lebih normal, dan aset digital seperti Bitcoin menunjukkan sentimen yang lebih positif.
Sesungguhnya, perang tidak pernah benar-benar menghasilkan pemenang. Yang menang hanyalah para pedagang senjata, sementara rakyat kecil di berbagai negara harus menanggung mahalnya harga pangan, energi, dan kebutuhan hidup sehari-hari.
Sebaliknya, ketika perdamaian hadir, manfaatnya dirasakan oleh seluruh umat manusia. Petani dapat bercocok tanam dengan tenang, nelayan dapat melaut tanpa kekhawatiran, pengusaha dapat berinvestasi, dan masyarakat dapat merencanakan masa depan dengan lebih baik juga pasti.
Karena itu, datangnya Bulan Suro menjadi pengingat bahwa kedamaian adalah nikmat yang sering kali baru disadari nilainya ketika hilang. Jika manusia mampu berdamai dengan dirinya sendiri, berdamai dengan sesamanya, dan berdamai dengan bangsa lain, maka dunia akan menjadi tempat yang lebih layak untuk ditinggali.
Alhamdulillah, awal Bulan Suro tahun ini membawa secercah harapan. Semoga perdamaian yang mulai terbangun tidak hanya menjadi berita sesaat, tetapi menjadi langkah panjang menuju dunia yang lebih aman, ekonomi yang lebih stabil, dan kehidupan yang lebih sejahtera bagi seluruh umat manusia.
Sebab pada akhirnya, kemajuan peradaban tidak lahir dari dentuman senjata, melainkan dari ketenangan, kerja sama, dan perdamaian.
Alhamdulillah Suro kembali menawarkan ketenangan. Dan mari jangan bahas Israel agar kiamat tak terlalu dekat.