Desain krisis global
Kepentingan ekonomi lebih besar memengaruhi kebijakan politik.
Kira-kira 10—20 tahun ke depan Asia termasuk Indonesia seperti apa? William H Overheat (2008). Secara gamblang memberanikan menjawabnya. Pertama dikatakannya sebagai "skenario masa depan."
Menjadi sesuatu yang amat krusial dalam merekayasa skenario global. Namun sifat yang menonjol dalam skema ini adalah terbangunnya aliansi kekuatan tiga negara. Yakni Amerika Serikat (AS), Jepang, dan China. Namun ada yang menyebutkan, bukan aliansi kekuatan melainkan perseteruan tiga negara tadi.
AS mencoba masuk melalui India bukan Pakistas untuk menguasai Asia. Kenapa? Karena Pakistan banyak dihuni kelompok-kelompok radikal. AS juga melirik Korea Selatan (Korsel). Sebagai negara kelas menengah, melalui Korsel AS punya potensi untuk mengembangkan konflik regional, demikian halnya dengan Taiwan termasuk Indonesia sebagai negara kepulauan dan Muslim terbesar di dunia.
Proyeksi kedua adalah “skenario bisnis.” Untuk kepentingan keamanan nasional, AS beraliansi dengan Jepang, Australia dan Korsel, dilanjutkan Singapura dan Filipina menggunakan isu demokrasi untuk mengimbangi pengaruh ideologi komunis Tiongkok.
Aliansi AS dan Jepang difokuskan pada ekspansi militer ke Tiongkok dan cocok sebagai pintu memengaruhi atau mengimbangi dominasi fundamentalis Islam di Central Asia. Wacana demokrasi dipakai untuk berkonfrontasi dengan kelompok berideologi agresif seperti monarki, fasis, komunis dan jihadis Islam.
John Rennie Short (2003) menjelaskan ada lima fase ekonomi dunia. Antara lain: fase “the tradisional society,” “pre condition take off,” “take off,” “drive to manurity” dan “age of high mass comsumtion.”
Fase-fase tersebut memiliki karakteristiknya masing-masing. Fase the tradisional society karakteristiknya teknologi terbatas dan perkembangan statistik strukturnya sosial. Pre condition take off karateristiknya bergerak pada wilayah produktivitas atau investasi produktif dan evolusi kelompok elite. Lanjut fase take off pangsa pasarnya adalah meningkatkan produktivitas investasi pembangunan, pergerakan manufaktur, gerakan sosial baru dan dengan dukungan ideologi politik.
Fase drive to manurity, fase ketika dampak dari pertumbuhan ekonomi sudah mulai dirasakan. Akan tetapi tidak terjadi pemerataan ekonomi. Sehingga disparitas kaum elite dan miskin tinggi. Jadi lebih tinggi kemiskinannya. Terakhir adalah age of high mass comsumtion ketika perilaku masyarakat dibuat konsumtif.
"Pergerakan ekonomi sebuah negara juga dipengaruhi oleh kebijakan politik. Ketika keduanya saling memengaruhi. Bahkan saat ini dominasi kepentingan ekonomi lebih besar untuk memengaruhi kebijakan politik."
(Tulisan lama yang masih relevan).