Gus Muwafiq: AI itu cloudnya masih di atmosfer bumi
Tawasulan itu wifi gratisan.
Cloud Artificial Intelligence (AI) masih di atmosfer Bumi, belum keluar dari galaksi pertama. Oleh karena itu, keberadaan AI belumlah apa-apa, ibarat kata masih ecek-ecek.
"Kalau agama kan galaksinya sudah ketujuh, karena cloudnya di galaksi ketujuh. AI belum apa-apa ibarat kata masih ecek-ecek," tegas Ahmad Muwafiq yang akrab disapa Gus Muwafiq dalam “Ruang Temu AI dan Agama Menyongsong Masa Depan Kehidupan Beragama di Era AI” di Kantor DPP PKB, Jakarta, akhir pekan lalu.
Kyai nyentrik berambut gondrong ini menambahkan, cloud itu dalam bahasa agama orang Yahudi disebut Tabut Sulaiman, bangsa Yunani menyebutnya Kotak Pandora, orang Islam Lauhul Mahfudz, warga Jepang menyebut Kantong Doraemon.
Nabi Muhammad SAW, kata dia, pernah dinaikkan ke langit ketujuh (Mikraj) untuk melihat cloud sebagai pusat data. Dan sebenarnya, setiap hari manusia sebenarnya sudah diajarkan secara online. Karena saking jauhnya, antara cloud manusia dengan dunia, agar saling terhubung dibuatlah pemancar agar bisa berhubungan antar-galaksi atas izin Allah SWT.
"Supaya tidak terhadang cloud-nya, kita disuruh online tiap hari. Karena sistem online kita terkadang rusak sinyal, agar tahu cloud, donwloadnya ada di Alquran, jadi ada codingnya," Gus Muwafiq menegaskan.
Dunia yang kita hadapi hari ini dikendalikan oleh coding, algoritma. Itulah kenapa China bisa melawan Amerika Serikat (AS). Lihat saja, Amazon dilawan Alibaba, Facebook dilawan RenRen, WhatsApp dilawan WeChat. Celakanya Indonesia, tambah Gus Muwafiq, Indonesia memiliki bahasa tetapi tidak punya huruf.
"Huruf yang selama ini kita pakai huruf latin. Jadi Indonesia tidak punya coding. Semestinya kita punya huruf sendiri agar kita bisa coding," imbuhnya.
Dilanjutkan Gus Muwafiq, para nabi dan wali itu karena paketannya besar makanya kerjanya download. Nabi Muhammad SAW mendownload 15 tahun, Syekh Abdul Qodir 25 tahun, Kyai Hasyim Asy'ari mendownload tiap malam.
"Kalau kita langsung download listriknya mati," tegasnya seraya menambahkan, jika kita ingin mengirim coding, maka kita memerlukan wifinya para nabi dan wali.
"Melalui tawasulan misalnya ketika kita ingin kirim doa, loh, tawasulan itu wifi gratisan."
Gus Muwafiq meminta agar tidak perlu ribut-ribut soal AI, justru dia mempersilahkan AI digunakan. Kembali dia menyontohkan, dulu ilmu terpusat di Rasulullah SAW, setelahnya menyebar yang selanjutnya dikumpulkan lagi data-datanya oleh Imam Bukhori, Imam Muslim dan lainnya.
Dia mengajak agar kita menjadi manusia yang selalu update, terlebih ketika berhadapan dengan teknologi. Dirinya tidak yakin AI akan bertahan lama akibat punya satu kelemahan, jika listrik mati AI tidak berfungsi.