Indonesia sudah ditunduki secara konstitusional

Indonesia sudah terjebak.

Sonny Majid
image

Banyak kalangan neolib menyebut Indonesia itu ekor dan terjebak dalam suasana pasar. Pertanyaannya apakah Indonesia bisa masuk ke dalam ekonomi konstitusi? 

"Saya mohon maaf, saya bilang tidak bisa," tegas Ekonom Senior Ichsanuddin Noorsy saat menyampaikan pandangannya di forum "Diskusi Publik: Arah Baru Amanat Ekonomi Konstitusi" di gedung Nusantara V DPR RI yang digelar Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Senin (20/6/2026). 

Apa penyebabnya? Ichsanuddin menjelaskan bahwa Indonesia telah tertundukan secara konstitusional. Pasal 33 ayat 1, 2 dan 3 justru bertentangan dengan Pasal 33 ayat 4. Dan Indonesia hampir satu generasi berjalan yang diterapkan dalam perekonomian adalah Pasal 33 ayat 4. 

Sekadar diketahui, Pasal 33 ayat 4 UUD 1945 mengatur bahwa perekonomian nasional diselenggarakan berdasarkan atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.

"Pertanyaannya, konstitusi mana yang dipakai? Apakah konstitusi UUD 2002 atau 1945. Yang selama ini kita gunakan UUD 2002 hasil amandemen, Pasal 33 ayat 4 tadi, semuanya. Hasilnya, 115 produk Undang-Undang kita berbasis neoliberal," ujarnya lagi.

Ichsanuddin menambahkan, ketika ingin membicarakan arah baru ekonomi konstitusi, bukan kebijakannya dulu yang mesti diperbaiki, tetapi sistemnya yang harus dibenarkan. Ketika masuk ke dalam kebijakan, kemudian tidak membenarkan sistem, maka sesungguhnya Indonesia telah membunyikan alarm krisis perekonomian.

"Hal itu disebabkan oleh kebijakan yang tidak bisa dipegang," tandasnya.

Dalam kesempatan itu, dirinya memaparkan tentang bagaimana Amerika Serikat (AS) dalam kondisi sekarang. Menurutnya, Amerika tengah mengalami keluruhan yang dia sebut sebagai "Gagalnya Barat Seabad."

Sejak awal abad 21 sampai sekarang, lanjut dia, Amerika sedang melakukan kumulasi kekuatan. Contohnya, saat Presiden Amerika Donald Trump mewajibkan belanja lima persen kepada NATO, dan kemudian Trump meminta izin Senat Amerika untuk menyerang Iran.

"Maka hakikatnya, Amerika sedang mempertahankan hegemoninya dengan basis financial, digital, militer dan industrial complex," katanya menegaskan. 

Selanjutnya dia menyinggung tentang Amerika yang memiliki 120 laboratorium biologi di seluruh dunia dan 30 di antaranya berada di Ukraina. Oleh karenanya, situasi saat ini tidak bisa dilihat sederhana. Istilahnya, Amerika kekuatan finansialnya dibasiskan pada kekuatan digital, begitu pula dengan kekuatan militernya. 

"Selat Hormuz itu kecil hanya 20 persen memainkan supplay chain dengan value chain, tapi dalam kasus Covid 19 pada 2020 silam, kan yang hidup hanya dua sektor, IT dan industri farmasi," imbuhnya lagi. 

Jika ditarik sekarang, maka kondisinya Indonesia tidak bisa keluar dari pertarungan itu. Ketika Covid, negara-negara maju yang tergabung di G7 secara bersama-sama dengan perusahaan besarnya membiayai badan kesehatan dunia (WHO) untuk mendikte bangsa-bangsa di dunia.

Baca Juga Artikel Lainnya

Lihat semua →