Kenaikan harga BBM dan kerakusan

Masyarakat dipaksa bertahan, bahkan sampai berpura-pura tidak tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Fatimah Azzahra
image

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) memang tidak bisa dihindari. Kenapa? Banyak faktor, selain mengenai harga minyak yang selalu berpatokan pada perkembangan dunia, faktor kekuatan fiskal juga menjadi salah satunya.

Namun di tengah himpitan masyarakat yang selalu menjadi objek terdampak akibat kenaikan harga BBM, kita masih saja dipertontonkan dengan watak “kleptokrasi” di hampir semua aspek/bidang kehidupan.

Pastinya ini soal kerakusan. Watak “kleptokrasi” inilah yang sebenarnya lebih berbahaya ketimbang apapun.

Lihat saja Sri Langka yang perekonomiannya hancur lebur bukan karena utang, melainkan disebabkan pengelolaan utang yang bukan peruntukannya. Pemerintah Sri Lanka memakai utang tersebut bukan untuk kegiatan ekonomi produktif, malah para elite-nya membajak untuk memenuhi gaya hidup.

Di saat masyarakat berjibaku dengan ketidakpastian, setidaknya untuk bertahan akibat kebijakan, para penguasa asyik menumpuk keuntungan untuk kekayaan pribadi. Pada akhirnya, masyarakat akan selalu bertahan atau bahkan berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya di lingkar kekuasaan.

Apakah watak rakus yang terjadi telah menjadi budaya?

Baca Juga Artikel Lainnya

Lihat semua →