Laut dan nasionalisme ekonomi
Mindset dari negara daratan harus diubah menjadi negara lautan.
Indonesia sebagai salah satu negara kepulauan terbesar di dunia, tentunya kita harus memiliki konsep menangani kerawanan pada aspek maritim.
Dengan jumlah 17.000 pulau, dari Sabang-Merauke, dari Pulau Niangas-Pulau Rote, sudah pasti dunia membutuhkan Indonesia, lantaran memiliki sejumlah checkpoint yakni Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Sulawesi dan Selat Lombok. Jika semua itu bisa dilindungi, maka bicaranya ketahanan, bicaranya bagaimana ketahanan Indonesia di masa depan.
Suka tidak suka, kita sedang melihat pergeseran keseimbangan global dan regional. Kita sangat tergantung dengan apa yang disebut "ketergantungan kompleks" dalam politik global ekonomi. Dalam rivalitas/kompetisi geopolitik, semua negara akan memperebutkan aspek wilayah (teritorial), alasannya tak lain agar tetap bisa mengontrol sumber daya alam (SDA).
Negara-negara lain juga akan memperebutkan pengaruh yang sebenarnya bermuara kepada kepentingan ekonomi. Oleh karena itu, pemerintah sebaiknya juga perlu memfokuskan pada keamanan sumber daya alam, karena negara lain lagi-lagi sangat membutuhkan/berkepentingan Indonesia.
Yang tak kalah penting adalah perang propaganda. Peran ini akan menggeser tipe-tipe persekutuan/aliansi negara. Contohnya saat ini Jepang sangat dekat dengan Amerika Serikat (AS). Ini artinya, betapa kekuatan pertahanan menjadi penting sekali.
Semisal, apakah kita memperhatikan Selat Flores yang membatasi kita (Papua) dengan Australia dan Papua Nugini. Jangan-jangan gerakan separatis di Indonesia digerakkan oleh negara-negara lain, sementara kita luput mengawasinya. Hanya Indonesia dan Australia, dua negara yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia dan Pasifik (Indo Pasifik).
Dalam level politik, kita harus mengubah mindset dari negara daratan menjadi negara lautan. Pembangunan Indonesia harus diarahkan kepada pembangunan (development) kelautan, baik itu diplomasi, pertahanan, demokrasi.
"Dengan mindset kemaritiman. Negara yang mampu memanfaatkan potensi laut."
Indonesia harus fair dan adil ketika memilih posisi "di tengah-tengah." Dan jangan lupa dengan ASEAN yang cenderung mulai dilupakan. Jadi fokusnya maritim dan "nasionalisme ekonomi."
(Poin diskusi sebagai narasumber "Fores Live Series 5" yang bertajuk "Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global: Telaah kesiapan Indonesia menghadapi krisis di era Prabowo-Gibran.")