NU di antara ketaatan tradisi dan gagasan visioner

Kekuatan NU harus utuh.

Hery Haryanto Azumi
image

Era disrupsi sekarang, Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi harus punya ketajaman visi dan keteguhan prinsip. Paling tidak NU secara organisasi perlu melakukan transformasi besar-besaran, dengan menyesuakan nilai-nilai Islam di tengah kondisi global yang semakin dinamis. 

Diperlukan energi baru untuk menerjang arus zaman yang visioner dengan kerja-kerja terukur. Sebagai jembatan kehidupan yang menyambungkan masa lalu dan masa depan, NU haruslah tetap berpegang teguh pada sanad keilmuan, menjaga, mempraktikkan tradisi amaliyah itu sendiri, taat kepada kyai laiknya tradisi di pesantren. 

Ketaatan tradisi tersebut menjadi kompas untuk mengarung lebih jauh menghadapi ragam tantangan, baik itu soal ekonomi, sosial, politik, pertahanan-keamanan, era kuantum, geopolitik yang direspon secara taktis dan strategis.

Nilai-nilai tersebut harus terus dipegang teguh, agar kader-kader NU mempunyai kemampuan memetakan realitas dan berani mentransformasi potensi-potensi yang dimilikinya dalam bentuk aneka kekuatan.

Kader NU tak boleh lagi kikuk masuk pada ruang-ruang kekaryaan dan intelektualitas berbalut profesionalisme seperti koorporasi, akademik, sektor keuangan, dunia digital dan lainnya tanpa harus menanggalkan identitas santrinya.

Dengan identitas kesantrian tadi, kader-kader NU tak boleh lagi menutup diri dalam dialektika dan tindakan nyata. Ini tentang bagaimana optimisme menatap masa depan NU melalui kegigihan ikhtiar. 

Lainnya adalah pandangan sejumlah kalangan yang melihat NU secara organisasi masih Jawa-sentris. Meski tak dipungkiri, Jawa menjadi pusat akar tradisi dan amaliyah NU lantaran banyak ulama dan pesantren besar dengan sanad keilmuan yang tak diragukan berada di Jawa. Tapi bukan berarti pengembangan organisasi NU terjebak pada "Jawanisasi." 

Memasuki abad kedua tak bisa lagi berpandangan demikian (Jawa-sentris), tapi NU adalah Indonesia dan dunia.  Diaspora Nahdliyyin dari kelompok petani, nelayan, masyarakat adat, buruh pekerja dan kelompok masyarakat lainnya tak boleh dilihat sebelah mata. 

"Kekuatan NU harus utuh."

Baca Juga Artikel Lainnya

Lihat semua →