Otoritas keagamaan terancam digantikan AI
"Saya tidak tahu apakah AI sedahsyat itu."
Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan yang berkembang dengan cepat menciptakan tantangan otoritas keagamaan. Apakah nantinya otoritas keagamaan tetap dipegang oleh tokoh-tokoh agama, atau digantikan oleh AI.
"Ini kan gawat, kalau kyai sampai rendah diri. Sementara AI ciptaan manusia, kyai ciptaan Tuhan," ujar Sekjen DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Hasanuddin Wahid saat membuka “Ruang Temu AI dan Agama Menyongsong Masa Depan Kehidupan Beragama di Era AI” di kantor DPP PKB, Jakarta akhir pekan lalu.
Cak Hasan, demikian ia akrab disapa mencontohkan, ada seorang santri bertanya kepada kyainya sambil membandingkan dengan mengutip AI. Selain otoritas keagamaan, tantangan lain perkembangan AI adalah tentang etika dan hakikat kemanusiaan, apakah ke depannya, AI bisa menggeser etika.
"Saya tidak tahu apakah sedahsyat itu. Tapi itulah yang dialami oleh para pemuka agama," katanya.
Kecerdasan buatan semestinya bisa membantu kehidupan beragama agar lebih baik lagi. Menurutnya, AI tetaplah alat tidak bisa menggantikan manusia sebagai subjek dan agama, kehidupan beragama dan pemuka agama.
Dia setuju apabila AI memiliki kemampuan menganalisis data, menghadirkan referensi, tetap saja AI adalah alat dan tidak menggantikan peran-peran guru rakyat, guru bangsa atau guru-guru yang lain. Kenapa? AI tidak punya tatapan mata yang meneduhkan.
“Oke, AI bisa menganalisis data, menghadirkan sejumlah referensi, tapi tetap saja AI adalah alat tidak menggantikan peran-peran guru rakyat, guru bangsa atau guru-guru yang lain. Kenapa? AI tidak punya tatapan mata yang meneduhkan,” tegasnya.