Semuanya diselesaikan dengan baris-berbaris
Jangan sampai telat bayar tagihan listrik disuruh hormat di depan tiang bendera.
Jerman dan Belanda akhirnya pulang kampung lebih cepat setelah tersingkir di babak penyisihan Piala Dunia tahun ini. Tentu saja warga kedua negara tersebut sedih, kecewa, bahkan mungkin ada yang beberapa hari enggan membuka media sosial karena takut melihat meme kekalahan tim kesayangannya.
Wajar saja, sebab sepak bola memang urusan perasaan. Kekalahan di lapangan hijau bisa membuat jutaan orang mendadak murung meski besok tetap harus berangkat kerja seperti biasa.
Namun sebagai warga Indonesia, saya merasa beruntung. Kami tidak perlu menunggu empat tahun sekali untuk merasakan kesedihan. Negara ini sangat kreatif menciptakan berbagai episode kesedihan sepanjang tahun. Kalau Jerman dan Belanda sedih karena kalah sepak bola, kami sering sedih karena menyaksikan kebijakan yang anggarannya besar tetapi manfaatnya masih dicari menggunakan mikroskop.
Salah satu contohnya adalah program pelatihan ala militer yang konon berbiaya sekitar Rp30 juta bahkan ada yang menyebut Rp45 juta per kepala per hari selama puluhan hari. Kedengarannya seperti paket wisata hemat merasakan menjadi tentara.
Bedanya, wisata biasanya pulang membawa kenangan, sedangkan yang ini sampai ada peserta yang meninggal sungguhan. Bahkan korbannya bertambah. Yang lebih mengherankan lagi, programnya tetap berjalan. Mungkin semboyannya bukan evaluasi, melainkan lanjutkan dulu, pikirkan nanti.
Belakangan ini juga muncul kesan bahwa hampir semua masalah bangsa dapat diselesaikan dengan latihan baris-berbaris. Mau jadi siswa, latihan militer. Mau jadi pekerja, latihan militer. Mau meningkatkan disiplin, latihan militer. Besok-besok mungkin kalau ada yang terlambat bayar listrik akan disuruh push-up sambil hormat ke tiang bendera.
Seolah-olah setiap persoalan kehidupan harus diselesaikan dengan peluit, aba-aba, dan simulasi tempur. Padahal disiplin bisa diajarkan melalui keteladanan, pendidikan yang baik, budaya kerja yang sehat, serta kepastian hukum yang adil. Wawasan kebangsaan juga tumbuh dari pemahaman sejarah, kebudayaan, dan rasa memiliki terhadap negeri ini, bukan semata-mata dari seragam loreng dan latihan tembak-tembakan.
Meski demikian, saya tetap bangga menjadi warga Indonesia. Sebab hanya di negeri ini kita bisa menemukan kreativitas tanpa batas dalam mengelola persoalan. Kadang membuat tertawa, kadang membuat geleng-geleng kepala, kadang membuat sedih sekaligus bingung harus bereaksi bagaimana. Tetapi justru karena itulah rakyat Indonesia terkenal kuat. Kami terbiasa menghadapi kenyataan yang lebih dramatis daripada pertandingan sepak bola.
Kalau warga Jerman dan Belanda sedih karena tim nasionalnya kalah, rakyat Indonesia sering harus belajar tersenyum di tengah kebijakan yang membuat kantong menipis dan logika menjerit.
Dan hebatnya, besok pagi tetap berangkat kerja, tetap ngopi di warung, tetap bercanda, dan tetap mencintai negaranya. Karena menjadi Indonesia ternyata bukan sekadar kewarganegaraan, melainkan latihan mental tingkat dunia yang berlangsung setiap hari.