Apapun peperangannya, ini masih tentang sinyal

Tiongkok mendesain Belt and Road Initiative (BRI) yang fokus pada infrastruktur guna merealisasikan “Sabuk Ekonomi Jalan Sutera” (jalur darat) dan “Jalur Sutera Maritim” (rute laut).

Sonny Majid
image

Dalam ekspansi ekonominya di dunia, China-Tiongkok membuat desain Belt and Road Initiative (BRI) yang fokus pada infrastruktur guna merealisasikan “Sabuk Ekonomi Jalan Sutera” (jalur darat) dan “Jalur Sutera Maritim” (rute laut), gabungan keduanya inilah yang dikatakan sebagai “Jalur Sutera” ketiga yang di ekspos pada 2015 lalu. Namun kini berubah nama menjadi Digital Silk Road (DSR). 

Tujuan DSR ini adalah meningkatkan konektivitas komunikasi internasional serta mendorong di-internasionalisasikan sejumlah perusahaan teknologi China. Dari kegiatan ekonomi berbasis digital itu, pada 2016 saja, China sudah mengantongi 30% lebih dari Produk Domestik Bruto (PDB). 

Ini kontras dengan kondisi perusahaan teknologi di Barat. Penggunaan data di negara mereka semakin ketat diawasi, sementara banyak perusahaan teknologi justru memperoleh dukungan politik dari pemerintah China. Akibat dukungan politik yang signifikan tersebut, banyak perusahaan teknologi China mengembangkan zona teknologi sebagai agenda pemerintah China sendiri. Beberapa di antaranya adalah dukungan pembangunan 5G bahkan mengarah ke 6G, industri internet, data besar (big data), teknologi komputasi awan serta kecerdasan buatan. 

Kemudian adalagi pengembangan kabel darat antara Eropa dan Asia yang dikerjakan oleh sejumlah perusahaan teknologi seperti China Telecom, China Mobile dan China Unicom. Termasuk Huawei (pemain utama nasional China) yang telah banyak mengerjakan proyek-proyek infrastruktur telekomunikasi di kawasan Afrika bertahun-tahun. Dukungan pemerintah China kepada perusahaan-perusahaan tersebut merambah ke digital global. Mereka mendesain produk dengan kualitas baik, namun berbiaya rendah.

Negara-negara di Asia Tenggara merupakan sasaran pasar pengembangan BRI oleh China. China kini telah banyak membangun infrastruktur di sejumlah negara Asia Tenggara, seperti kereta api berkecepatan tinggi di Laos Utara, jalur pemipaan di Malaysia, pembangunan Pelabuhan Kyakpyu di Myanmar, serta kereta cepat Jakarta-Bandung di Indonesia.

Di Indonesia juga berdiri raksasa teknologi China menjadi pemain utama dalam e-commerce dan startup. Kita bisa lihat Alibaba yang mendirikan perusahaan e-commerce di Singapura yakni Lazada Group dengan pengguna di Thailand, Malaysia, Filipina dan Vietnam. Kemudian Tancent yang telah berhasil melahirkan Grab dan Go-Jek dengan konsep industri berbagai kendaraan.

Keduanya berhasil menggeser pemain sebelumnya, Uber. Alipay melakukan penetrasi pasar menawarkan layanan pembayaran elektronik di Kamboja, Myanmar, Laos, Filipina, Singapura, Thailand, Malaysia dan Vietnam. Kemudian ada Ant Financial yang merupakan perusahaan induk yang memilih jalur merger, akuisisi, kemitraan dengan Ascend Money Thailand. Di Filipina dengan Mynt dan di Indonesia sendiri dengan Emtek. 

Masih di Indonesia, Huawei dan ZTE membangun infrastruktur teknologi, informasi dan komunikasi serat optik. Huawei Marine setidaknya telah menyelesaikan pembuatan kabel bawah laut khususnya di Indonesia dan Filipina.

Lihat juga perusahaan produsen asal China Oppo, Vivo, Huawei terus-terusan ekspansi pasar berusaha merebut pasar Samsung asal Korea Selatan. Di pasar Indonesia, Huawei telah meluncurkan jaringan 5G dan komputasi awan, dan Indonesia menjadi pilihan pusat data kedua setelah di Thailand. 

Perusahaan raksasa teknologi Amerika Serikat (AS) seperti Facebook (Meta), Google, Twitter sekarang X terus berusaha mengejar berusaha mempertahankan eksistensinya di Asia Tenggara meski tidak seagresif perusahaan-perusahaan China bersaing dalam e-payment, pembangunan jaringan 5G dan komputasi awan.

Perang digital ini sudah pasti memberikan keuntungan yang sangat besar. Meski bukan tanpa ancaman, seperti kebocoran data dan informasi selalu menghantui, keamanan data serta informasi merupakan hal penting. Indonesia sebagai pangsa pasar menjanjikan, tetap harus bertindak hati-hati menyikapi perkembangan teknologi informasi komunikasi yang dimainkan perusahaan-perusahaan teknologi China dan AS.

Baca Juga Artikel Lainnya

Lihat semua →