Bahasa Indonesia sebagai kunci membangun kesadaran politik mahasiswa
Dalam hal ini, bahasa Indonesia berperan sebagai jembatan antara pengetahuan, pemikiran dan tindakan.
Di tengah-tengah situasi politik Indonesia yang semakin kompleks serta dihadapi dengan berbagai konflik sosial, mahasiswa memiliki peran penting sebagai agen perubahan untuk menciptakan demokrasi yang sehat.
Selain aktif dalam berorganisasi ataupun aksi-aksi lainnya, mahasiswa juga harus bisa menguasai kemampuan dalam membangun dan membentuk sebuah argumentasi atau gagasan politik.
Suatu argumen haruslah disusun menggunakan kata yang tepat agar dapat dipahami oleh para pendengar atau pembaca, karena bahasa bukan hanya sebagai alat komunikasi melainkan juga sarana untuk membentuk cara berpikir.
Kemampuan ini penting karena mahasiswa sebagai garda terdepan masyarakat dalam menyampaikan aspirasi sosial. Tingkat pemahaman, analisis dan cara berpikir seorang mahasiswa dapat dilihat dari bagaimana dia menggunakan kaidah bahasa dalam menyampaikan gagasan atau argumennya.
Ketika mahasiswa mampu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, mereka akan lebih mudah memahami dan menyampaikan pendapat tentang berita politik yang sedang berkembang, baik dalam literatur ilmiah, media massa, forum-forum diskusi publik maupun aksi-aksi masyarakat.
Dalam ilmu politik menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sangat penting karena berfungsi untuk menyampaikan argumentasi, opini, serta digunakan untuk menjelaskan dan menganalisis fenomena politik yang sedang terjadi.
Di wilayah kenegaraan, penerapan bahasa Indonesia yang baik juga dibutuhkan, seperti pada saat pidato presiden atau pejabat negara, penulisan undang-undang dan sebagai alat komunikasi antarlembaga pemerintah, partai politik dan organisasi masyarakat.
Penggunaan bahasa Indonesia yang baik oleh tokoh politik dapat kita analisis dari jurnal penelitian berjudul “Kontestasi Wacana Politik dalam Debat Capres RI 2024 Kajian Pragma-Dialektikal” yang ditulis Khusnul Khotimah dan Emy Rizta Kusuma (2025).
Dijelaskan bahwa kesadaran capres dalam merancang strategi komunikasi terencana, termasuk penggunaan bahasa yang tegas dan kemampuan penggunaan kata yang positif bertujuan untuk membangun citra dan narasi yang positif.
Bahasa yang empatik dan inklusif digunakan untuk menciptakan hubungan emosional dengan audiens, sementara penghindaran bahasa kontroversial menjadi strategi untuk meminimalkan potensi konflik.
Jurnal “Analisis Hubungan Kemampuan Bahasa dengan Proses Berpikir Kritis pada Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesi Universitas Siliwangi” ditulis Adilla Sundari, dkk (2025) menguraikan tentang pentingnya hubungan antara kemampuan bahasa dengan kemampuan berpikir kritis.
Penelitian tersebut ini diperoleh melalui penyebaran kuesioner tertutup yang terdiri dari 10 butir pertanyaan kepada 21 responden yang mayoritas mahasiswa. Hasilnya membuktikan bahwa sebanyak 100% responden setuju bahwa kemampuan bahasa yang baik dapat membantu seseorang untuk berpikir secara kritis.
Dapat disimpulkan bahwa menggunakan struktur bahasa yang efektif, baik lisan maupun tulisan serta pemilihan kata yang tepat dapat membantu seseorang terutama mahasiswa untuk membangun sebuah narasi politik yang kritis dan logis, serta memberikan kesan komunikasi yang santun dan persuasif dalam ruang publik.
Kesadaran politik tidak hanya lahir dari informasi, tetapi juga dari kemampuan untuk memproses, menganalisis, dan menyampaikan suatu informasi. Dalam hal ini, bahasa Indonesia berperan sebagai jembatan antara pengetahuan, pemikiran dan tindakan.
Kalimat yang tersusun rapi dan pemilihan kata yang tepat, membuat pesan politik lebih mudah dipahami dan diterima oleh masyarakat lebih luas.
(Yogyakarta)