Demokrasi sempoyongan

Demokrasi yang berlangsung seperti berjalan di tengah hempasan angin, seakan-akan maju, malah berputar balik (sempoyongan).

Sonny Majid
image

Jika sebelumnya kita membicarakan mematikan oposisi, kali ini kita mencoba sedikit mengulas tentang demokrasi yang mengalami titik jenuh. Ada faktor yang menjadi penyebab kondisi tersebut, salah satunya adalah tidak tegasnya sebagian identitas partai politik (parpol) yang berkaitan dengan ideologi. 

Apalagi dalam perjalanan pemerintahan, belum ada aturan pemberian insentif untuk parpol yang memosisikan diri oposisi, sehingga ketika tidak masuk dalam lingkar kekuasaan mengalami "kering kerontang." Oleh karenanya pengamat mengutarakan munculnya gejala otoritarianisme kian menguat. 

Di sisi lain, dunia sedang mengarah ke konservatif, meski terkesan liberal tetapi dianggap terlalu kiri, tidak menampilkan hal-hal baik. Ada kebosanan terhadap demokrasi yang tidak memberikan jaminan bisa lebih baik khususnya bidang ekonomi. 

Demokrasi yang berlangsung seperti berjalan di tengah hempasan angin, seakan-akan maju, tapi sebenarnya berputar balik (sempoyongan). Indonesia mengalaminya, seolah-olah demokrasinya bergerak namun tidak berpindah. Contohnya terjadi apa yang disebut dengan "kompetitif autoritarianism" dalam Pilpres 2024.  

Dimana diduga ada skenario otoritarian yang tidak ada kompetisi. Di Pilpres 2024, dibuat seakan-akan berkompetisi, tapi sudah diatur pemenangnya. Jika mengutip Prof. Zainal Arifin Mochtar atau akrab disapa Uceng, guru besar Ilmu Hukum Kelembagaan Negara Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), dia mengatakan, orang yang menang melalui kecurangan akan mengalami insecure.

Pola kebijakannya akan tambal sulam, begitu kebijakannya dikritik langsung dilepas. Atau bahkan sudah ada keinginannya (dari orang itu) maka dia akan bebal, pokoknya maju terus meskipun malu. Inilah otoritarianism terselubung. 

Masih mengutip Uceng, bahwa demokrasi selalunya membicarakan bagaimana merebut dan menjalankan kekuasaan. Apabila semua instrumen kelembagaan negara tidak bisa lagi diharapkan menjalankan demokrasi yang baik, maka jalannya tak lain menyadarkan masyarakat sipil yang kondisinya sedang terseok-seok. 

Ada pola "rizomatik," sebuah gerakan akar rampang, tidak terlalu mencuat ke permukaan, kendati dipotong akarnya tetap tumbuh karena horizontal.

Cobaan para aktivis itu bukan pada saat mengkritik dari luar, tetapi ketika dia terlibat di dalam kekuasaan, dan di dalam bekerjanya apakah dia tetap berpikir kritis, harus berbagi peran dan tetap terhubung, tidak tercerai-berai.

Baca Juga Artikel Lainnya

Lihat semua →