Di dalam jeruji patriarki
Kapan kami bisa bergerak bebas tanpa tali yang membuat kami tertahan dibelakang,
Seiring dengan bertambahnya umurku, aku sadar bahwa sudah terlalu lama kami para perempuan terjebak didalam jeruji patriarki, menjerit-jerit, bergetar tak temukan jalan keluar. Sakit dan perihnya jeritan yang kami pendam tak tahu kapan akan keluar.
Sudah berapa kali kami mendengar celotehan yang mengekang, mencabik perlahan-lahan hati dan pikiran. Berapa banyak mimpi, suara, dan lirihan yang dipaksa bungkam. Aku muak dengan dunia yang terus memaksaku untuk diam tak bersuara, untuk tidak melawan walau diancam, untuk tetap patuh walau tertindas
Aku sering mendengar lontaran-lontaran yang membuat perempuan terlihat lemah dan tak berdaya. Perkatan- perkataan buruk yang selalu keluar dari mulut para penghuni itu, tidak peduli berapa umur ku, apakah aku sudah berumah tangga, atau sudah memiliki anak, perkataan-perkataan itu akan terus menjadi bayang-bayang yang selalu mengikuti.
“Nggak usah sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya juga kamu didapur, “kamu harus pintar melayani suami, biar suamimu gak liat perempuan lain”, “kamu diam aja!, yang nurut kalau jadi perempuan.” atau bahkan pada saat rasa aman dan kebebasan kami di renggut, kami tidak lepas dari ujaran buruk yang justru berbalik menyalahkan kami, “salah kamu yang pakai pakaian terbuka”, “kenapa gak teriak?, kenapa kamu diam aja gak minta pertolongan?”, mungkin bagi mereka ini hanyalah sekedar perkataan, namun bagi kami ini adalah sebuah bentuk penyiksaan raga dan jiwa.
Kami tumbuh dengan beragam cita-cita dan mimpi yang kami tanam dan sirami setiap hari, berharap mimpi itu akan berbunga dan membuahkan hasil, namun sayangnya tidak, mimpi-mimpi yang kami rawat terpaksa kami ‘bunuh’, bukan karena keinginan kami, namun karena tekanan sosial, budaya dan masyarakat yang tidak memberikan kami ruang untuk bermimpi.
Sudah berapa banyak yang ’mati’ dalam pertarungan batin, sudah berapa banyak sayap yang dipatahkan lalu di buang seakan tak berharga..
Di dalam jeruji inilah akhir dari seorang hidup perempuan, kami tak luput dari pernikahan, dapur, dan selangkangan, bak lingkaran setan yang tak pernah berhenti berputar, menjebak kami tanpa jalan keluar.
Rasanya sesak, kami kesulitan bernapas, ruangan ini begitu panas sampai-sampai raga kami terlepas, jiwa kami sudah tidak menempel lagi dengan raga, yang tersisa hanyalah tubuh tidak berpenghuni yang dipaksa bergerak oleh tali dari bayang-bayang sang penghuni.
Kami akan menghabiskan hidup kami didalam jeruji ini. Saat semesta sudah tak kuasa lagi melihat nasib kami yang seperti ini, disitulah jiwa kami akan di ambil, raga kami akan dikubur lalu dikafani dengan tubuh yang terbalut celemek berbau amis darah daging dan jasad kami akan dimakamkan di dapur rumah, seluruh keluarga akan menangis pilu, bukan karena tanda kesedihan, tapi memikirkan siapa lagi yang akan mengurus perut dan kediaman.
Semua ini meninggalkan ku dengan beribu pertanyaan dikepala, kapan penderitaan ini akan berakhir?, Kapan kami bisa bergerak bebas tanpa tali yang membuat kami tertahan dibelakang, apakah hidup kami akan seperti ini selamanya?,atau akankan berubah?
Dari semua pertanyaan yang berputar di kepalaku, meninggalkan ku dengan satu pertanyaan terakhir, kata Tuhan, dimata-Nya semua setara, tetapi mengapa ciptaan-Nya sendiri justru menempatkan laki-laki lebih tinggi daripada perempuan, seolah-olah itu adalah kehendak Sang Ilahi. (Sebuah cerpen)
(Yogyakarta)