Elite global dan kolonisasi

Perang kerap dibungkus atas nama “untuk perdamaian” tak lagi dinilai sebagai kegagalan diplomasi,  menjadi paradoks.

Sonny Majid
image

Mereka yang dimaksud adalah elite global. Mereka kini cukup membuat sistem standarisasi ekonomi keuangan untuk menguasai negara-negara ibarat koloni, tak terkecuali Indonesia.

Para elite global, memakai doktrin ukuran-ukuran tertentu seperti pemanfaatan lembaga pemeringkatan (atas dalih survei) yang menurunkan peringkat Indonesia. Tragisnya pemerintah acapkali terlena dengan hasil survei yang “dipaksa” positif demi menyenangkan penguasa. Tidak positif dianggap tak valid.

Sistem global dibuat tak lagi berdiri di atas asas keadilan, lebih pada keberpihakan dan kekuatan saat ini (status quo). Ditambah lagi militerisme yang dinormalisasi.

Konflik yang berujung perang justru menjadi hingar bingar industri senjata. Perang kerap dibungkus atas nama “untuk perdamaian” tak lagi dinilai sebagai kegagalan diplomasi,  menjadi paradoks.

Disinilah kebijakan ekonomi, keuangan, perdagangan dipaksa “berselingkuh” dengan kekuatan militer yang diistilahkan banyak pengamat “Military-Financial Industrial Complex”, layaknya kapitalisme yang didukung militerisme adalah jalan menuju fasisme.

Apakah Indonesia masuk perangkap skema ini, atau kita sendiri sebenarnya mengarah kesana (fasisme)? Entahlah.

Baca Juga Artikel Lainnya

Lihat semua →