Gus Dur: Jangan tinggalkan Muhammadiyah

Saya pun terbangun dari tidur, terdiam sejenak, dan langsung mengirimkan al-Fatihah, sambil berpikir apa arti dari mimpi itu.

Sonny Majid
image

Sebenarnya rada enggan menceritakan hal ini, sebab saya yakin tak semua orang akan percaya, saya bisa dibilang halu. Tapi entah kenapa, kali ini saya seperti ada beban jika tidak menceritakan. Padahal, beberapa kali pertemuan dengan dia lewat mimpi, sengaja saya sembunyikan alur ceritanya.

Toh, dari banyak rekan yang saya coba ajak cerita responnya biasa-biasa saja. Namun, seakan-akan seperti ada “perintah” untuk menceritakan.

Ya, sudah akhirnya saya memutuskan menyampaikan dalam uneg-uneg kali ini. Dia yang saya sebut di awal tulisan tadi adalah Kyai Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Setelah beliau wafat, saya sudah bermimpi bertemu dengannya empat kali.

Mimpi yang ke-empat inilah yang saya coba ceritakan alurnya. Suatu ketika saya berjalan di sebuah trotoar yang tidak terlalu ramai, termasuk jalan raya sekitarnya. Bangunan-bangunan di sepanjang jalan berdesain unik Eropa. Pepohonan kalau itu sedang bersemi. Di trotoar, terdapat kursi-kursi kayu dengan ukiran menarik, dipakai orang-orang beristirahat sejenak sambil menikmati suasana.

Tiba saatnya, saya berdiri di perempatan berlampu merah. Mendadak, saya menoleh ke sebelah kiri, dan apa yang saya lihat. Di salah satu bangku trotoar saya melihat sosok Gus Dur, berjas mantel panjang hingga betis kelir hitam.

Gus Dur tidak sendiri, dia ditemani putri bungsunya, Inayah Wulandari Wahid yang biasa lebih sering disapa Inayah Wahid, dan adalagi seorang pria bertubuh tegap menggunakan jaket kulit.

Hah, Gus Dur..! gumam saya. Saya pun berinisiatif  menghampirinya, ya paling tidak sekadar ingin menyapa. Setibanya di kursi itu, saya melihat Inayah tersenyum, saya pun menyapa Gus Dur…..Gus…..! saya langsung menyalaminya sambil mencium tangannya.

Saat saya mencium tangan kanannya, tangan kiri Gus Dur menekan bagian belakang kepala saya. Akhirnya dia melepaskan tekanan tersebut, dan setelah saya mengangkat kepala sambil melihat wajah Gus Dur, saat itu pula Gus Dur berkata: “Jangan tinggalkan Muhammadiyah, mereka harus diperhatikan,” ujarnya kala itu.

Tak lama, muncul sedan Mercy warna hitam, pria bertubuh tegap tadi spontan membukakan pintu dan Gus Dur masuk digandeng Inayah. Sedan itu langsung meluncur, saat sedan berjalan sunroof terbuka dan berdirilah Inayah sambil membentangkan kedua tangannya, seketika itu juga, saya melihat dua ekor kuda warna hitam menyusul sedan yang ditumpangi Gus Dur, kuda-kuda dinaiki dua pria menggunakan seragam aparat dengan gaya Eropa.

Saya pun terbangun dari tidur, terdiam sejenak, dan langsung mengirimkan al-Fatihah, sambil berpikir apa arti dari mimpi itu.

Secara subjektif mungkin keberadaan Inayah dalam mimpi itu telah terjawab. Beberapa bulan terakhir ini, Inayah berkecimpung dalam gerakan seni dan kebudayaan. Sepertinya Inayah menjadi energi baru dalam mengkritik hal-hal yang menurutnya salah dalam proses perjalanan negara dan bangsa ini.

Saya tidak perlu menjelaskan apa saja yang disuarakan oleh Inayah. Kita bisa mengeceknya langsung di banyak kanal youtube. Namun yang belum terjawab hari ini adalah, apa yang dimaksud oleh Gus Dur, agar tidak meninggalkan Muhammadiyah, kendati saya menafsirkannya secara subjektif Muhammadiyah kultur, laiknya NU kultur.

Atau jangan-jangan, ini berkaitan dengan pilpres, agar mengonsolidasikan kekuatan Muhammadiyah kultur dan NU kultur…entahlah…! Ah, lagi-lagi ini subjektif. Itulah mimpi ke-empat kalinya bertemu Gus Dur.

Dan semua identik dengan sebelah kiri. Di mimpi pertama, saya memijit kaki kiri Gus Dur di kamar pribadinya. Mimpi kedua, saya melihat Gus Dur memberikan kuliah umum, dan lagi-lagi saya duduk di sebelah kiri, saat kelar, peserta kuliah umum berdesak-desakan ingin menyalami Gus Dur, namun ketika saya berkesempatan menyalaminya, Gus Dur malah memarahi saya sambil berkata, kamu tahu apa soal demokrasi…!

Mimpi ketiga, lagi-lagi saya ikut berkumpul di ruang tamu rumah Gus Dur. Duduk di sebelah kirinya. Kala itu, Gus Dur sedang menerima para kyai, tapi saya tak ingat siapa kyai-kyai tersebut.

Al-fatihah….!

Baca Juga Artikel Lainnya

Lihat semua →