Gus Dur: La wong pulungnya sudah jatuh ke saya!

Dengan santainya Gus Dur menjawab, “la wong pulungnya sudah jatuh ke saya.” Tokoh-tokoh yang hadir dalam pertemuan itu sontak tertawa bersama.

Sonny Majid
image

Menjelang pemilihan presiden, 11 tokoh bertemu di lantai 40 sebuah hotel di bilangan Jakarta. Para tokoh tersebut menanyakan langsung ke Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), apakah serius maju dalam pemilihan presiden. Dengan santainya Gus Dur menjawab, “la wong pulungnya sudah jatuh ke saya.” Tokoh-tokoh yang hadir dalam pertemuan itu sontak tertawa bersama.

Pulung adalah tanda yang dikaitkan dengan mistik yang berbentuk cahaya bulat berasal dari langit, dimana dalam pandangan Jawa menjadi sebuah pertanda berpindahnya kekuasaan kepada seseorang itu.

Sebelumnya, Kepala Intelijen Mesir, Letjen Umar Sulaeman, pernah juga menjabat sebagai Wakil Presiden Husni Mubarak sebelum tumbang. Dia sempat menanyakan perihal jatuhnya Gus Dur sebagai presiden. Gus Dur lahir dari kultur pesantren Nahdlatul Ulama (NU), yang terkenal memiliki tradisi pemikiran keagamaan abad pertengan Islam yang khas, kuat dalam logika dan setiap disiplin ilmunya memiliki dimensi yang komprehensif.

Oleh karenanya, ketika Gus Dur menjadi presiden, belum banyak teknokrat dan birokrat yang berlatar belakang NU. Kondisi inilah yang mempengaruhi Gus Dur menyusun pembantu-pembantunya yang dipercaya, khususnya dalam tugas kepresidenan.

Konsekuensinya, ring satu presiden diisi oleh pejabat profesional yang sebenarnya tidak ada masalah, justru masalahnya adalah ketika mereka tidak dapat memahami jalan pikiran Gus Dur dengan tradisi pesantren. Persoalan pun muncul, banyak dari mereka, mungkin atau tidak mungkin punya agenda politik sendiri.

Beberapa contoh masih banyaknya pelaku politik maupun lingkar Gus Dur yang tidak mampu menafsirkan pemikirannya, adalah ketika Gus Dur meminta maaf terkait kekerasan pada peristiwa G-30-S/PKI. Gus Dur ketika itu menilai permintaan maaf tersebut layaknya saling memaafkan saat Hari Raya Idul Fitri, yang tidak perlu ditanggapi terlalu serius plus rada ngotot.

Sulit rasanya, bagi kelompok yang tidak mengenal tradisi pesantren. Penjelasan Gus Dur itu dianggap meremehkan atas isu yang serius. Padahal maksudnya Gus Dur, saling memaafkan layaknya Lebaran itu sebagai suatu pendekatan kebudayaan dalam penyelesaian konflik.

Gus Dur mewujudkan goodwill-nya sebagai presiden dengan mengundang tokoh-tokoh Lekra Pramudya Ananta Toer dan kawan-kawannya ke istana, justru dipandang dari sisi politik semata, menafikan kacamata budaya sebagaimana dimaksud Gus Dur.

Sama halnya ketika Gus Dur menganggap bendera Bintang Kejora sebagai simbol budaya masyarakat Papua, yang oleh Gus Dur tidak menjadi ancaman serius selama masih ada bendera Merah Putih. Ini seperti beberapa negara bagian di Amerika Serikat yang masih memasang simbol-simbolnya dalam bentuk bendera.

Gus Dur mengajak bernegara dengan rileks, tidak formalistik dan kaku. Gus Dur menawarkan cara untuk keluar dari kompleksnya masalah di era reformasi dan jebakan masalah kebangsaan dengan jalan kebudayaan. Sayang, pendekatan budaya tersebut tidak pernah disepakati sebagai visi nasional.

Tekanan politik yang membabi buta saat kepemimpinan Gus Dur harus dimaklumi, lantaran Indonesia kala itu tengah bangkit dari krisis ekonomi dan moneter yang mendera. Saat itu masa transisi dari diktator menuju demokrasi yang dibalut euphoria dan tumbuhnya berbagai ambisi politik.

Dalam pemilihan presiden melalui MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat), Gus Dur unggul dengan raihan 373 suara mengungguli Megawati Soekarnoputri yang memperoleh 313 suara, dengan total yang diperebutkan 700 suara. Gus Dur dilantik menjadi Presiden RI pada 20 Oktober 1999 oleh MPR, dan menyerahkan mandatnya kepada MPR 23 Juli 2001, eklis, Gus Dur menjabat sebagai presiden hanya 21 bulan. BJ Habibie dan Gus Dur, dua presiden ini dikenal berhasil meletakkan pondasi demokrasi di Indonesia, dan membawa bangsa ini melewati masa transisinya.

Dengan cepat, pemberitaan-pemberitaan di media massa waktu itu terkonsolidasi menjadi opini publik terkhusus masyarakat politik. Euphoria reformasi ikut menumbuhkan dorongan untuk memanfaatkan semua peluang politik demi mencapai tuntutan-tuntutan politiknya.

Gus Dur diharap mampu menyelesaikan keseluruhan agenda reformasi. Jika tidak, Indonesia bisa terjebak pada kemelut transisi. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan Gus Dur di kemudian hari akhirnya terbukti seperti membuka kotak pandora.

Gus Dur menyadarkan kita semua, tentang pentingnya berpegang teguh dan menghormati konstitusi, menghindarkan pertumpahan darah dan menjaga perdamaian, pentingnya menjaga dan membentuk sejarah yang baik, pentingnya menjaga hati dari ambisi, pentingnya kesabaran dalam politik, pentingnya berbesar hati dan menjaga moral politik.

Agar apa? agar Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia ini menjadi negara hukum dan demokrasi, sehingga keadilan dan kemakmuran bisa terwujud.

(Sumber: Menukil buku “Perjalanan Intelijen Santri” ditulis As’ad Said Ali).

Baca Juga Artikel Lainnya

Lihat semua →