Kapitalisme dan Komunisme adalah produk konspirasi
Sementara itu, kita juga disuguhkan oleh banyak propaganda yang mengacaukan pengertian publik. Termasuk di dalamnya tentang kapitalisme versus komunisme.
“ALL truth passes through three stages. First, it is ridiculed, second it is violently opposed, and third, it is accepted as self-evident – semua kebenaran melewati tiga tahap: pertama ditertawakan atau dicemooh, kedua ditentang habis-habisan dan ketiga diterima sebagai suatu kenyataan,” (Arthur Schopenhauer, filsuf, 1788-1860).
Jika kita bicara tentang teori ekonomi. Tentulah marxisme, sosialisme- komunisme selalu dianggap sebagai antitesa dari kapitalisme. Karl Max, diciptakan sebagai tokoh yang melawan konsep Adam Smith yang mengusung kapitalisme. Marxisme – sosialisme – komunisme lebih menekankan pada pemerataan ekonomi, menjawab kerusakan yang diakibatkan oleh kapitalisme yang mengedepankan pertumbuhan ekonomi.
Padahal siapa sangka Karl Max, mungkin banyak yang sudah tahu, ketika menulis “Manifesto Komunis” pada 1848 dibantu oleh sahabatnya, Engels, seorang filsuf yang juga tokoh kapitalis yang sangat kaya. Bahkan disebut-sebut keduanya sempat bertemu dengan kelompok-kelompok Atheis dan Nihilis di New York. Dari hasil pertemuan itu, mereka bersepakat membentuk “Gerakan Komunisme Internasional.”
Sebelum mendeklarasikan gerakan tersebut, kabarnya mereka tetap bersepakat kapitalisme dan komunisme mengusung agenda besar tentang pemerintahan tunggal dunia. Sebuah agenda yang meniadakan kedaulatan bangsa-bangsa.
Dalam operasionalisasinya, mereka sepakat untuk tetap melestarikan agenda tersebut dengan cara-cara gradual melalui sekolah, universitas, pemerintahan dan media. Antara kapitalisme dan komunisme harus dilakukan pemisahan dengan maksud agar masing-masing (kapitalisme dan komunisme) sama-sama memiliki pengikut dalam jumlah besar. Skenario benturannya kapitalisme harus selalu menang.
Dalam rangka penguasaan dunia tersebut dalam rentetan perjalanan yang begitu panjang harus berupaya menghapus bentuk kerajaan, kepemilikan pribadi, warisan, patriotisme, nilai-nilai keluarga, dan menghapus konsep agama yang menyembah Tuhan untuk menuhankan rasionalisme – “reason.”
John Robinson (1798), menyebutkan dalam konspirasi harus memenangkan rakyat biasa di segala lapisan kehidupan dengan cara memicu efek terhadap pembentukan pola pikir (seseorang). Belakangan terungkap di era revolusi Prancis 1789-1794, sekelompok orang yang bernama “Jakobin” bergerak menjadi pendobrak mengusung tema “Republik Universal.” Pemimpin kelompok itu, Robespierre, mendengungkan apa yang disebut dengan “Deklarasi tentang Hak Manusia.”
Disusul dengan “Manifesto Kesetaraan” yang justru kontradiktif, karena manifesto tersebut justru berkeinginan untuk menghapuskan kepemilikan pribadi dan distribusi yang sama. Bahkan mereka juga mengampanyekan komunisme, sebuah gambaran yang kontras.
Rencana besar untuk kekacauan juga dibuat, termasuk soal keseimbangan kekuasaan, komunisme, kapitalisme dan kemanusiaan sekuler. Desain mengenai bunga atas pinjaman, obligasi (bond) yang pada akhirnya bertujuan untuk menguasai dunia dengan kekuatan ekonomi dan politik.
Politik yang seperti apa? Yakni politik yang tidak ada kaitannya dengan moral. Menurut mereka, kekerasan baik secara politik militer maupun politik ekonomi adalah kunci untuk menguasai dunia. Politik yang menciptakan despotisme – sistem pemerintahan dengan kekuasaan yang tidak terbatas dan sewenang-wenang. Sebuah bentuk pemerintahan dengan satu penguasa baik individual maupun oligarki yang berkuasa dengan kekuatan politik yang absolut – tiran.
Politik yang menghancurkan “aristokrasi kerajaan” kemudian menggantinya dengan “aristokrasi uang.” Slogan “kebebasan” dikampanyekan yang oleh mereka adalah sesuatu yang benar dilakukan sesuai hukum yang berlaku, dan hukum itu mereka sendiri yang membuatnya. Untuk menguasai dunia, tak perlu lagi ada peperangan dengan memenangkan teritorial, tetapi perang sesungguhnya yakni ekonomi.
Dalam tahapan penguasaan ekonomi, kapital dipakai untuk mengukuhkan monopoli agar pemimpin bisa menggunakan kekuatan politik dan ekonomi. Adanya sentralisasi kekuasaan uang dunia, bangsa-bangsa bisa dijadikan budak. Menciptakan kelaparan agar mampu menciptakan hak bagi kapital untuk mengontrol para pekerja. Kemudian menabur kebencian yang diharapkan memperbesar efek dari krisis ekonomi.
Pemerintahan yang ada harus selalu dikelilingi sebanyak mungkin para bankir, jutawan, karena semuanya nanti kembali ditentukan oleh angka-angka. Yang lebih mengerikan lagi, industri harus selalu dalam posisi spekulatif, penguasaan tanah bangsa-bangsa melalui aturan-aturan, menciptakan krisis ekonomi yang akhirnya menarik uang dari sirkulasi. Akumulasi uang yang besar dibuat tidak bergerak, sehingga memaksa banyak negara berutang.
Bunga pinjaman (utang) dipatok sebesar 5% dengan jangka waktu jatuh tempo yang sedemikian panjang. Alhasil, banyak negara justru membayar bunga, utang tidak berkurang. Negara- pada akhirnya dijerat oleh kekuatan kapital internasional. Sementara itu, kita juga disuguhkan oleh banyak propaganda yang dibuat secara konsisten dengan harapan mengacaukan pengertian publik. Termasuk di dalamnya propaganda kapitalisme versus komunisme.
Pertanyaannya kemudian, apakah Indonesia sudah dikuasai? Siapa saja pengambil keputusan di dalam negeri yang mendukung mereka? Apakah modal asing, privatisasi, pinjaman menjadi bagian dari rencana besar untuk menguasai Indonesia? Apakah mereka sudah menguasai perbankan? Bagaimana kepemilikan aset negara, akankah hilang? Bagaimana kedaulatan kita? Bisakah Indonesia keluar dari skenario besar itu? Lantas apa yang harus kita lakukan?