Kapitalisme di Indonesia bisa berubah wujud menjadi fasisme

Para monopolis akan melakukan “perusakan” dengan cara beragam, ekstrimnya menggunakan cara-cara fasis dengan tujuan  menciptakan teror, gejolak .

Sonny Majid
image

Kapitalisme, kapitalis apapun namanya adalah wujud dari akumulasi modal. Sedangkan komunisme saat ini lebih fokus pada mengonsolidasi kekuasaan dengan menggunakan massa. Inilah selalu yang digunakan oleh segelintir elite dalam rangka menumpuk kekayaan, terlebih bagi mereka yang masuk dalam struktur kekuasaan.

Kapitalisme yang menjunjung tinggi “pasar bebas,” khususnya di Indonesia sepertinya sudah terjebak bahkan mengarah pada fasisme.

Bung Karno pernah mengatakan “Kapitalisme yang terjebak krisis membuahkan fasisme, sedangkan fasisme adalah perjuangan para monopolis yang terancam bangkrut” yang diistilah sekarang kerap diistilahkan sebagai “oligarki.”

Biasanya kalau sudah begitu, maka para monopolis akan melakukan “perusakan” dengan cara yang beragam, kadang ekstrim menggunakan cara-cara fasis dengan tujuan  menciptakan teror, gejolak dan lainnya.

Lantas dimana penegasan kalau-kalau kapitalisme khususnya di Indonesia itu “terjebak.” Adalah penggunaan kalimat “demi bangsa dan negara, demi keutuhan bangsa dan negara” yang selalu digunakan para monopolis untuk mempertahankan “persengkongkolan jahat” dengan penguasa guna melanggengkan bisnisnya.

Alhasil, kalimat “menjunjung tinggi keutuhan bangsa dan negara” sebatas gimik. Padahal secara tidak langsung, mereka para monopolis mendesain sedemikian rupa sistem dan aturan negara untuk keuntungan kelompoknya.

Mereka acuh atas dampak dari sistem dan aturan yang dibuatnya terhadap masyarakat. Masyarakat “dipaksa” menerima keadaan dan bertarung sendiri. Sementara rakyat oleh sistem dan aturan digiring menjadi “miskin struktural,” agar selalu menjadi ceruk pasar dalam setiap perhelatan pemilihan umum.

Di sisi lain, para monopolis mendesain sistem dan aturan yang memberikan karpet merah kepada para oligarki yang bersepakat/bersekongkol menimbun kekayaan. Jangan-jangan benar, kapitalisme di Indonesia sudah berubah wujud menjadi fasisme, sementara kita terlena lantaran disibukkan dengan “menerima keadaan” akibat dampak kelakuan para monopolis tadi.

Baca Juga Artikel Lainnya

Lihat semua →