“Mainan” para komprador (1)

Ini tentang situasi internasional antara SCO, USA, Uni Eropa, MI6, CIA dan Mossad, yang mengombang-ambingkan Indonesia karena tidak jelas di posisi mana.

Sonny Majid
image

Banyak kalangan menyampaikan ragam pandangan pasca-unjuk rasa yang berujung anarkis hingga menelan korban. Ada yang mengatakan aksi tersebut didalangi asing. Semisal mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Hendropriyono yang menyebut nama nama George Soros, mantan bos IMF (Internasional Monetary Fund).

Belum lagi analisis bahwa demonstrasi lalu (25-28 Agustus) hingga klimaksnya pada 30 Agustus 2025 (terjadi pembakaran gedung pemerintahan) di beberapa daerah, masih berkaitan dengan kepentingan “geng Solo” dan “geng Presiden Prabowo.” Hal ini berkaitan masih menguatnya rumor penggulingan Presiden Prabowo yang hanya berkuasa dua tahun.

Sehingga tuduhan ada “operasi garis dalam” mencuat. Dimana mekanisme komunikasi dengan Presiden Prabowo hanya satu pintu melalui Letkol Teddy Indra Wijaya (Menseskab) yang disebut-sebut banyak pihak sebelumnya adalah ajudan Jokowi. Hal itu menyebabkan Presiden Prabowo tidak utuh (objektif) menerima informasi atau masukan. Maksudnya disini ada “penyaringan informasi.”

Adalagi analisa bahwa chaos itu mengenai kepentingan perebutan bisnis antara partai coklat (parcok)-polisi dan partai ijo (parjo)-tentara, yang di era Presiden Jokowi dimana memberikan ruang luas kepada parcok dalam urusan “beking bisnis.” Parcok  dituduh menjadi “alat kekuasaan” Jokowi sehingga lahir istilah Dwi Fungsi Polri. Ditambah relawan Jokowi mulai menyuarakan pergantian Prabowo sebagai presiden karena dianggap tidak mampu mengamankan keadaan.

Belum lagi anggapan bahwa pembajakan demonstrasi tersebut akibat mantan-mantan orang Jokowi dicokok akibat kasus dugaan korupsi, pengalihan isu pemakzulan Wapres Gibran dan masih banyak lagi. Joget-joget para anggota dewan setelah pengumuman kenaikan tunjangan hanya menjadi entri poin.

Semua anggapan itu sah-sah saja. Namun bagi saya tetap, hal ini semua hanya perkara mental elite kita bermental komprador, hal ini juga banyak dikemukakan banyak sejawat. Tapi kita tak perlu membahasnya dalam tentang itu.

Di sisi lain, ada pandangan berbeda dari sejumlah pendapat para analis yang telah dikemukakan tadi. Kamis, 4 September 2025, sejumlah kawan saya berbincang-bincang mengenai kondisi negara saat ini, dan seperti apa ke depannya. Obrolan itu lebih memakai kacamata geopolitik.

 

INDONESIA DI TENGAH PERANG PENGARUH GLOBAL

Dari diskusi itu diungkapkan, bahwa kisruh besar di Indonesia saat ini sudah bukan lagi soal siapa ingin apa atau siapa bekerja untuk siapa, ini tentang suasana internasional antara SCO, USA, Uni Eropa dan tentang MI6, CIA dan Mossad, yang menurut mereka mengombang-ambingkan Indonesia karena tidak jelas di posisi mana.

Sebuah diagnosis yang pedas dan suram terhadap kondisi republik ini tentu saja menggeser analisis dari keributan domestik yang tampak antara pertarungan elite, polarisasi politik, kebijakan ekonomi yang kontroversial menuju sebuah realitas yang lebih gelap dan kompleks, sehingga Indonesia menjadi medan tempur (battleground state) dalam perang pengaruh global abad ini.

Dari perbincangan tersebut disepakati bahwa Indonesia tetap menjadi arena proksi. Artinya bukan juga menolak narasi yang menyebut kekacauan politik Indonesia murni berasal dari dalam negeri. Artinya bahwa aktor-aktor domestik, sering kali tanpa sepengetahuan mereka, telah menjadi pion atau proksi dalam permainan yang jauh lebih besar, tapi bisa jadi sadar akibat mental komprador tadi.

Kepentingan kelompok elite lokal mungkin memang nyata, tetapi dana, dukungan politik, skenario ketegangan, dan narasi yang mereka gunakan bisa saja berasal dari atau diperkuat oleh kekuatan eksternal yang memiliki agenda sendiri. Politik dalam negeri dengan demikian menjadi theatre, panggung tempat drama global dimainkan. Ngeri juga bukan? Tapi begitulah sejarah peradaban dunia selalu mengajarkan. (Bagian-1)

Baca Juga Artikel Lainnya

Lihat semua →