“Mainan” para komprador (2)
Masa depan Indonesia akan ditentukan oleh kemampuannya untuk tidak sekadar diombang-ambingkan.
“Kepentingan kelompok elite lokal mungkin memang nyata, tetapi dana, dukungan politik, skenario ketegangan, dan narasi yang mereka gunakan bisa saja berasal dari atau diperkuat oleh kekuatan eksternal yang memiliki agenda sendiri. Politik dalam negeri dengan demikian menjadi theatre, panggung tempat drama global dimainkan. Ngeri juga bukan? Tapi begitulah sejarah peradaban dunia mengajarkan.” Demikian narasi akhir dari tulisan bagian pertama.
KONDISI INTERNASIONAL SALING BERMUSUHAN
Secara spesifik aktor-aktor utama yang berinteraksi dan bersaing di atas panggung Indonesia adalah: SCO (Shanghai Cooperation Organisation) vs USA dan Uni Eropa. Ini merepresentasikan perang besar antara blok geopolitik. SCO, yang dipimpin oleh Tiongkok dan Rusia, bukan sekadar organisasi kerja sama regional. Ia adalah manifestasi dari tatanan dunia multipolar yang ingin menantang hegemoni Barat.
SCO menawarkan narasi alternatif sepeeti investasi tanpa campur tangan politik (lewat BRI-Belt and Road Initiative), kerja sama keamanan non-Barat, dan perlawanan terhadap “nilai-nilai universal” Barat.
AS dan Uni Eropa mewakili blok tradisional yang berusaha mempertahankan pengaruhnya. Mereka menawarkan kerja sama demokrasi, HAM, nilai-nilai liberal, dan keamanan maritim (seperti dalam isu Laut China Selatan). Bagi mereka, Indonesia adalah sekutu demokrasi strategis yang krusial untuk mengimbangi expansi pengaruh Tiongkok di Indo-Pasifik.
Tarik ulur antara kedua blok inilah yang menciptakan “suasana internasional” menjadi tegang. Setiap kebijakan Indonesia, dari proyek infrastruktur hingga sikap terhadap konflik seperti di Ukraina, Palestina, Iran langsung dibaca melalui lensa persaingan ini.
MI6, CIA dan Mossad, di tingkat yang lebih tersembunyi, kita melihat perang di dalam perang. MI6 mewakili kepentingan industri pertahanan dan keamanan yang sangat besar. Ketegangan di Laut China Selatan, misalnya, bukan hanya soal kedaulatan, tetapi juga soal pasar untuk kapal perang, sistem radar, dan pesawat tempur.
Menciptakan persepsi ancaman dapat menguntungkan bisnis ini. Inggris memiliki kepentingan komersial langsung dalam membentuk kebijakan pertahanan Indonesia. Maka sering terjadi benturan antar iman, antar kelompok masyarakat, isu agama, rasisme dan lain sebagainya selalu menjadi mainan pokok setiap tahun.
CIA mewakili alat kekuasaan tradisional negara, inteligensi dan operasi rahasia. Metodenya bisa berupa rekrutmen sumber dari dalam, pembentukan opini elite, atau operasi pengaruh klasik. Mossad menjadi metafora untuk operasi pengaruh modern. Seperti komposisi yang elegan dan mempengaruhi perasaan, operasi ini menggunakan senjata yang halus namun sangat efektif. Perang informasi, disinformasi terkoordinasi, bot media sosial, dan “funded influencers.”
Mossad tidak menembakkan peluru, ia membentuk narasi, memecah belah masyarakat, dan menggerakkan opini publik untuk mendukung agenda tertentu yang sering kali tidak jelas sumbernya. Inilah perang kognitif yang terjadi di timeline Twitter (X), Facebook, dan TikTok warga Indonesia. Yahudi sangat lihai dengan semua itu dan menembus jantung pertahanan bangsa Indonesia.
INDONESIA MENJADI MAKANAN EMPUK
Mereka semua mengombang-ambingkan Indonesia karena menurut sejarah memang tidak jelas berada di posisi mana. Hal ini yang menjadi inti dari masalahnya. Indonesia diombang-ambingkan karena dianggap tidak memiliki grand strategy geopolitik yang konsisten dan jelas.
Kebijakan luar negeri “bebas-aktif” sering kali dipraktikkan sebagai reaktif dan transaksional, bukan sebagai strategi pro-aktif yang matang. Indonesia menerima investasi dari Tiongkok, tetapi juga melakukan latihan militer dengan AS.
Indonesia mengkritik kebijakan AS di Timur Tengah, tetapi juga bekerja sama dengan Uni Eropa. Sementara ini bisa dilihat sebagai keberhasilan menjaga keseimbangan. Tapi bagi kekuatan luar, hal ini terlihat sebagai ketidakjelasan (ambiguity) dan keragu-raguan yang dapat dieksploitasi.
Ketiadaan posisi yang jelas ini membuat setiap kekuatan merasa memiliki peluang untuk mempengaruhi Indonesia, sekaligus merasa perlu waspada karena pengaruh lawannya. Akibatnya, Indonesia menjadi medan dimana semua kekuatan ini saling serang, bukan dengan invasi militer, tetapi dengan perang ekonomi, perang informasi, dan perang proksi melalui elite politik dan media.
Negara tidak “diombang-ambingkan” oleh laut, tetapi oleh berbagai kekuatan yang sengaja mendorongnya ke berbagai arah untuk kepentingan mereka sendiri.
DARURAT KEDAULATAN KOGNITIF DAN STRATEGIS
Pada akhirnya adalah sebuah peringatan, kisruh politik dan sosial yang kita alami mungkin hanya merupakan gejala permukaan dari sebuah penyakit yang lebih dalam, sebagai cipta kondisi pelemahan kedaulatan Indonesia di tengah perang pengaruh global.
Mungkin solusinya tidak lagi hanya dengan menyelesaikan konflik internal, tetapi dengan segera merumuskan kembali grand strategy geopolitik yang jelas, visioner, dan berorientasi pada kepentingan nasional jangka panjang. Indonesia harus beralih dari menjadi “battleground” menjadi sebuah “force” yang mandiri dan disegani.
Hal ini memerlukan ketegasan posisi, kecerdasan dalam membaca permainan internasional, dan yang paling penting, kedaulatan kognitif, kemampuan untuk membentuk narasi kita sendiri, ketahanan terhadap operasi asing, dan kesadaran bahwa setiap konflik domestik kita memiliki dimensi global yang harus diwaspadai.
Masa depan Indonesia akan ditentukan oleh kemampuannya untuk tidak sekadar diombang-ambingkan, tetapi untuk mengemudikan kapalnya sendiri di tengah badai geopolitik ini. (Bagian-2)
(Mahrus Ali)