Mematikan oposisi

Isu tentang demokrasi masih dibicarakan secara elite, belum menyentuh masyarakat bawah (akar rumput)

Sonny Majid
image

Hampir seluruh negara-negara hari ini pelaksanaan berdemokrasinya mengalami penurunan. Tentu adal penyebabnya, apa itu? Karena gagalnya lembaga politik negara (legislatif, eksekutif, legislatif) mengawal demokrasi. Situasi itu kian parah ketika yudikatifnya "dijinakkan," sementara legislatif dan eksekutif "main mata" untuk mematikan oposisi.

Pemilihan umum (Pemilu) dianggap sebagai kegiatan menuju demokrasi yang dilaksanakan reguler 5 tahun sekali belum jurdil. Hal ini bisa dilihat dengan masih banyaknya peristiwa-peristiwa dugaan pelanggaran bahkan yang mengarah ke pidana Pemilu, tak mampu disentuh. Terutama pada praktik politik uang, dan adanya tekanan politik dalam proses penghitungan suara berjenjang. 

Penyebab lainnya adalah isu tentang demokrasi masih dibicarakan secara elite, tidak menyentuh masyarakat bawah (akar rumput). Oleh karenanya masih menjadi penting untuk terus memperjuangkan pendidikan demokrasi, terutama mengenai kepemiluan. 

Demokrasi oleh banyak pakar dipandang sebagai warisan untuk generasi-penerus. Sebuah negara yang demokrasinya baik, maka dipercaya akan menciptakan pengelolaan negara secara baik. Ini artinya, dengan melakukan pendidikan politik (demokrasi) maka kita tengah memperjuangkan harapan. Pemilu salah satu jalan tentang bagaimana mengelola harapan. 

Demokrasi tidak serta-merta membicarakan tentang kesempurnaan, karena demokrasi bersifat profan bukan transenden. Dalam praktik berdemokrasi harus ada kekuatan yang menjadi penyeimbang (oposisi) yang bertugas memberikan kritik dan masukan kepada kekuasaan, bukan malah "membunuh" oposisi. Begitu oposisi "dibunuh," maka godaan untuk menjadi otoriter selalu datang.

Baca Juga Artikel Lainnya

Lihat semua →