Muslimat NU harus berbenah; Khofifah bisa jadi Ketua Umum PBNU

"Membayangkan Khofifah menjadi Ketua Umum PBNU.

Mahrus Ali
image

Di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), pergantian kepemimpinan bukan sekadar proses administratif, melainkan bagian dari tradisi kaderisasi yang menjaga keberlangsungan organisasi dari generasi ke generasi. Karena itu, setiap tokoh yang telah lama mengabdi, sebaiknya juga memberi ruang kepada kader-kader baru untuk tumbuh, belajar memimpin, dan mengambil tanggung jawab yang lebih besar.

Nama Khofifah Indar Parawansa tentu memiliki tempat yang istimewa dalam sejarah organisasi. Pengabdian, pengalaman, dan kontribusinya bagi umat maupun bangsa tidak perlu diragukan lagi. 

Justru karena besarnya jasa tersebut, banyak warga Nahdliyin yang berharap beliau dapat berperan pada level yang lebih luas, termasuk jika suatu saat dipercaya mengemban amanah yang lebih besar di lingkungan NU (membayangkan Khofifah menjadi Ketua Umum PBNU).

Di sisi lain, muncul pula pertanyaan yang patut direnungkan bersama. Jika sebuah organisasi terus bergantung pada figur yang sama dalam waktu yang sangat panjang, kapan kader-kader baru memperoleh kesempatan untuk memimpin? Regenerasi bukanlah bentuk penolakan terhadap tokoh senior, melainkan penghormatan terhadap keberhasilan mereka dalam melahirkan generasi penerus.

Bagi para pendukung Khofifah, dukungan kepada beliau tidak harus selalu diwujudkan dengan mempertahankannya pada posisi yang sama dari periode ke periode sebagai Ketua Umum Muslimat NU.

Dukungan juga dapat diwujudkan dengan mendorong lahirnya kader-kader Muslimat NU yang baru, yang mampu melanjutkan nilai, visi, dan perjuangan yang telah dirintis selama ini. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang tidak kekurangan tokoh ketika satu tokoh selesai menjalankan amanahnya.

Muslimat NU memiliki ribuan kader perempuan yang cerdas, berpengalaman, dan memiliki dedikasi tinggi. Seperti misalnya Yenni Wahid, Ida Fauziah, Arifatul Choiri, Luluk Nurhamidah, dan banyak lagi lainnya.

Memberikan kesempatan kepada mereka untuk tampil bukan berarti mengurangi penghormatan kepada Khofifah, melainkan membuktikan bahwa proses kaderisasi di Muslimat NU berjalan dengan baik. Sebab keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya diukur dari lamanya ia memimpin, tetapi juga dari banyaknya pemimpin baru yang berhasil dilahirkan.

Mendorong Khofifah menuju peran yang lebih luas, termasuk dalam kepemimpinan PBNU, dapat dipahami sebagai bagian dari semangat regenerasi. Sementara itu, posisi kepemimpinan di Muslimat NU dapat menjadi ruang bagi munculnya generasi baru yang siap melanjutkan estafet perjuangan.

Dengan demikian, organisasi tidak hanya kuat karena figur, tetapi juga kuat karena sistem kaderisasi yang hidup dan berkelanjutan.

NU dibangun bukan untuk satu orang, satu kelompok, atau satu generasi. NU dibangun oleh banyak generasi yang silih berganti mengabdi. Regenerasi yang berjalan baik bukanlah ancaman bagi organisasi, melainkan tanda bahwa organisasi tersebut sehat, dewasa, dan siap menghadapi masa depan.

Baca Juga Artikel Lainnya

Lihat semua →