NU perlu terus mendorong gerakan kebudayaan

Masih perlu kiranya organisasi Nahdlatul Ulama (NU) terus menjadi motor gerakan kebudayaan.

Hery Haryanto Azumi
image

Banyak orang yang mengaitkan peta abad 21 ini dengan "Asian Century," yakni memudarnya negara-negara Barat yang dikomandoi Amerika Serikat (AS). Dua aktor kebangkitan "Asian Century" ini tak lain adalah China (Tiongkok) dan India. 

Dalam konteks yang lebih luas, bukan hanya China dan India, karena dua negara itu adalah cara pandang Barat, yang muncul adalah China yang mencerminkan satu model politik otoriter dan sentralistik, sementara India mencermikan model demokrasi liberal (multi partai). Jadi keduanya adalah contoh model pendekatan politik ekonomi yang sebenarnya, China (model central planning) dan India (mengikuti trek demokrasi). 

Indonesia mau berdiri dimana dari dua konteks model pembangunan ini, yang berkembang secara masif di kawasan Asia Pasifik. Sementara Indonesia adalah negara yang realitasnya sama dengan China dan India, sebagai negara Pos-kolonial. Indonesia harus menentukan pilihannya tentang model pembangunan yang dilakukan.

Tetapi yang lebih penting lagi adalah, bagaimana menyikapi realitas tadi. Melihat India yang menerapkan pendekatan "Pearl Necklace-kalung mutiara" untuk mengimbangi "Belt Road Initiative-inisiatif jalan sabuk" China.

ASEAN tetap menjadi jangkar (buffer)- menjadi penentu dari realitas yang terjadi sekarang ini, tak terkecuali realitas perubahan geopolitik. Negara-negara yang baru tumbuh (berkembang) bisa menjadi pemain. ASEAN harus memberikan warna tersendiri.

ASEAN harus mengupayakan terciptanya koalisi etik yang menjadi pilar dari kemajuan baru (koalisi lebih mengedepankan para kebudayaan). Karena pondasi budaya-lah yang akan menentukan pondasi politik dan ekonomi.

Ketika ASEAN memiliki soliditas dalam kebudayaan ini, saya yakin bahwa yang menjadi problem ke depan-konflik yang lebih meluas, bahwa kekuatan baru akibat menurunnya peran negara-negara Barat (Amerika Serikat dan sekutunya), dengan kekuatan yang naik, dalam konteks "Asian Century" itu akan terjembatani dengan baik. 

 

ORGANISASI NAHDLATUL ULAMA (NU) SEBAGAI MOTOR GERAKAN KEBUDAYAAN

Oleh karena itu perlu kiranya organisasi sebesar Nahdlatul Ulama (NU) menjadi motor gerakan kebudayaan yang dimaksud untuk Indonesia, sebagai bagian merespon dinamika geopolitik yang tengah mengalami perubahan. Kenapa demikian? Karena aspek kemajuan ekonomi, politik dan budaya harus melibatkan aspek manusia. 

Berbicara tentang manusia, maka kita harus membincangkan pula faktor budaya. Karena faktor budaya ini punya peran penting pada pembangunan ekonomi dan politik. Ekonomi dan politik tidak bisa tumbuh hanya menjadi cangkokan dari luar. Ekonomi dan politik harus tumbuh dari upaya internal berbasis pada etika dan kebudayaan internal itu sendiri.

"Warisan-warisan budaya di Indonesia harus terus dijaga, ditumbuhkan oleh kader-kader NU, karena Indonesia merupakan titik perlintasan/silang budaya dari seluruh penjuru dunia. Indonesia menjadi titik diaspora kebudayaan dunia."

Kembali ke aspek manusia tadi. Di era keterbukaan ini, memberikan modal yang besar bagi Indonesia untuk belajar dari manapun. Semangat masyarakat yang terbuka itulah yang menjadi modal besar kita untuk tidak ikut arah angin saja, tetapi ikut mengarahkan angin. 

Jika bicaranya demikian, maka organisasi NU juga tetap menjadikan pendidikan sebagai "consern" isu guna terus mendesak pemerintah agar berani berinvestasi besar-besaran pada dunia pendidikan. Lihat saja Singapura, negara itu maju karena serius menerapkan meritokrasi. Sementara jalur terbaik menuju meritokrasi hanya bisa diperoleh melalui pendidikan.  

Baca Juga Artikel Lainnya

Lihat semua →