Perang dagang AS-Tiongkok masih berlanjut
Kebijakan AS memicu ketegangan antar kedua negara yang sampai sekarang masih tercatat sebagai negara yang menguasai pertumbuhan ekonomi dunia.
Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China-Tiongkok berawal ketika Amerika Serikat mengalami defisit. Defisit yang kian naik itu akhirnya membuat Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani kebijakan penetapan bea masuk impor produk asal China.
Kebijakan AS memicu ketegangan antar kedua negara yang sampai sekarang masih tercatat sebagai negara yang menguasai pertumbuhan ekonomi dunia. "Masih perang tarif khususnya pada impor."
Perang dagang antar-kedua negara tersebut pastinya memicu pertumbuhan ekonomi global yang terhambat. AS kerap memberlakukan tarif lebih tinggi ketimbang China, sebagai respon terjadinya ketidakseimbangan perdagangan antar-dua negara tersebut. China pun menerapkan pungutan yang lebih tinggi atas impor AS.
Indonesia sudah barang tentu mendapat imbas atas perang dagang tersebut. Kekhawatirannya tak lain lantaran pasar Indonesia bakal dibanjiri produk-produk AS dan China. Namun jika Indonesia bisa memanfaatkan perseteruan dagang tersebut, terbuka peluang bagi Indonesia menggarap pasar bebas di AS dan China sendiri. Hal itu bisa terjadi karena pangsa pasar China tertutup di AS, demikian sebaliknya. Akan tetapi bukan berarti perang dagang itu tidak punya efek positif.
TIONGKOK PERNAH MENDIRIKAN AIIB UNTUK MENGIMBANGI WORLD BANK
Gelagat China untuk menjadi negara adidaya sebenarnya semakin jelas terlihat ketika negeri Tirai Bambu itu menggagas Asian Infrastructure Invesment Bank (AIIB) – Bank Investasi Infrastruktur Asia yang merupakan konglomerasi keuangan dunia untuk mengimbangi World Bank dan International Monetary Fund (IMF).
Konglomerasi ini modal awal pendiriannya mencapai 100 miliar dollar AS. Terakhir disebut-sebut sebanyak 35 negara telah bergabung. Sebagai langkah awal penetrasi ke Indonesia adalah persetujuan pendanaan sebesar 433 juta dollar AS, dimana 216 juta dollar AS digunakan untuk membiayai perbaikan dan peningkatan infrastruktur.
AIIB belakangan juga difungsikan untuk ikut menguasai secara ekonomi terhadap negara-negara millennium ketiga, guna menciptakan keseimbangan penguasaan ekonomi atas negara-negara tersebut (negara dunia ketiga -millenium).
Dari perang dagang yang masih berlangsung, setidaknya ada beberapa hal yang menjadi poin, kapitalisme yang diidentikan terhadap negara-negara Barat sekarang menjadi tidak permanen. Kendati kecenderungan negara Barat menggunakan agresi militer, semakin memperburuk atribusi negara-negara Barat menerapkan kapitalisme.
Contohnya agresi terhadap negara-negara Amerika Latin, kawasan Afrika dan Timur Tengah untuk menguasai gas dan minyak. Sedangkan China tak lagi murni sosialis China, dalam urusan ekonomi, China juga bisa kapitalis.