Pesantren menjadi sasaran prasangka
Memang benar oknum cabul itu merusak kemanusiaan melalui pesantren tapi jangan semuanya di gebyah-uyah.
Di tengah riuh persaingan lembaga pendidikan modern, pondok pesantren sering kali menjadi sasaran prasangka yang sayangnya sangat tergesa. Berita-berita kelam tentang oknum berkedok kiai atau dukun cabul yang mengaku bagian dari pesantren acapkali diangkat besar-besaran, terlebih menjelang masa penerimaan siswa baru.
Seolah-olah lumpur satu telapak kaki mampu mengotori seluruh samudera pengabdian pesantren yang telah berabad-abad menjaga akhlak bangsa. Padahal sejarah Indonesia tidak pernah berdiri jauh dari tikar lusuh pesantren, dari suara ngaji selepas maghrib, dari doa para santri yang dipanjatkan dengan air mata kesederhanaan.
Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan. Bahkan adalah rumah pembentukan watak. Di dalamnya, ilmu bukan hanya dipelajari, tetapi dihidupi dan saling melengkapi. Santri diajarkan adab sebelum pengetahuan, diajarkan menghormati guru sebelum pandai berdebat, dan diajarkan hidup sederhana sebelum bermimpi menjadi penguasa. Di saat banyak lembaga pendidikan berlomba mencetak manusia pintar, pesantren tetap istiqamah membentuk manusia yang benar.
Bangsa ini sesungguhnya memiliki hutang sejarah kepada pesantren. Ketika Indonesia belum bernama Indonesia, pesantren telah menjadi benteng perlawanan terhadap penjajahan. Resolusi Jihad yang dipimpin oleh Hadratus Syaikh KH. HASYIM ASY'ARI menggerakkan rakyat Jawa Timur dan sekitarnya melawan kolonial.
Para kiai tidak hanya mengajarkan kitab kuning, tetapi juga menanamkan keberanian mempertahankan tanah air. Bahkan banyak pesantren dahulu menjadi markas perjuangan rakyat kecil yang tak memiliki senjata selain keyakinan dan doa.
Memang benar oknum cabul itu merusak kemanusiaan melalui pesantren tapi jangan semuanya di gebyah-uyah bahwa pesantren secara keseluruhan menjadi jelek.
Tidak adil apabila pondok pesantren hanya dinilai dari ulah beberapa oknum. Sebab semua lembaga pendidikan pun memiliki sisi gelapnya sendiri. Ada guru cabul di sekolah umum, ada korupsi di kampus ternama, ada kekerasan di institusi modern, tetapi tidak lantas seluruh sistem pendidikan dihina sebagai sarang keburukan.
Maka pesantren pun layak diperlakukan dengan keadilan yang sama. Kritik boleh disampaikan, pengawasan harus dilakukan, tetapi jangan sampai kebencian dibangun dengan cara menghapus jasa sejarahnya.
Pondok pesantren juga memiliki peranan besar dalam pendidikan karakter di Indonesia. Ketika dunia digital melahirkan generasi yang mudah cemas, mudah marah, dan kehilangan arah sosial, pesantren masih mempertahankan tradisi kebersamaan.
Santri hidup bersama tanpa memandang kaya atau miskin. Mereka belajar antre mandi, mencuci pakaian sendiri, bangun malam untuk tahajud, hingga belajar menahan ego dalam kehidupan berjamaah. Nilai-nilai seperti inilah yang justru mulai langka di tengah masyarakat modern.
Selain pendidikan agama, pesantren masa kini juga berkembang menjadi pusat ilmu pengetahuan dan pemberdayaan masyarakat. Banyak pesantren memiliki sekolah formal, perguruan tinggi, pelatihan kewirausahaan, pertanian, teknologi digital, hingga koperasi mandiri. Pesantren bukan lagi sekadar ruang menghafal kitab, tetapi juga ruang membangun masa depan bangsa dengan fondasi moral yang kokoh.
Bahkan banyak tokoh nasional lahir dari tradisi pesantren atau tumbuh dalam kultur santri. Nama seperti KH Wahid Hasyim, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi contoh bagaimana pesantren melahirkan pemimpin dengan wawasan kebangsaan yang luas dan kemanusiaan yang dalam. KH Ma'ruf Amin tumbuh dari tradisi keilmuan pesantren yang kuat pernah menjadi wakil presiden yang patut diteladani.
Tokoh-tokoh seperti Muhaimin Iskandar, Nazaruddin Umar, Nusron Wahid, Jazilul Fawaid, Irfan Yusuf, M. Hasanuddin Wahid, hingga Nadirsyah Hosen juga lahir dari lingkungan santri yang akrab dengan tradisi intelektual pesantren. Dari pesantren pula lahir banyak ulama, akademisi, budayawan, dan aktivis sosial yang menjaga denyut kebhinekaan Indonesia. Seperti KH Zawawi Imron, KH Mustofa Bisri, hingga Asep Zamzam Nor, A. Muwaffiq, juga M. Nuh.
Pesantren mengajarkan bahwa ilmu tanpa akhlak adalah kesombongan, sedangkan akhlak tanpa ilmu adalah kelemahan. Karena itu pesantren berusaha menjaga keduanya tetap berjalan beriringan. Di saat sebagian orang sibuk membangun gedung pendidikan menjulang tinggi, pesantren tetap tekun membangun hati manusia agar tidak runtuh oleh keserakahan zaman.
Sudah saatnya masyarakat melihat pesantren dengan pandangan yang lebih jernih. Jangan sampai bangsa ini lupa bahwa pondok pesantren telah ikut menjaga Indonesia jauh sebelum banyak institusi modern berdiri.
Dari bilik bambu yang sederhana itu lahir doa-doa panjang untuk negeri, lahir kesabaran rakyat kecil, lahir keteguhan moral, dan lahir manusia-manusia yang tetap mampu mencintai Indonesia meski hidup dalam keterbatasan.
Pesantren bukan tempat yang sempurna, sebab tidak ada lembaga manusia yang benar-benar tanpa cela. Namun menghukum seluruh pesantren karena ulah segelintir oknum sama saja dengan memadamkan lampu rumah hanya karena seekor laron masuk ke dalamnya. Di tengah zaman yang semakin gaduh oleh krisis moral, bangsa ini justru membutuhkan lebih banyak cahaya dari pesantren, bukan semakin menjauhinya.