PMII adalah kekuatan inti Nahdlatul Ulama
Di dalam organisasi NU ada kekuatan inti yang bernama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia(PMII).
Tidak ada kekuatan hari ini yang bukan berasal dari akar rumput, salah satunya adalah organisasi Nahdlatul Ulama (NU). NU telah membuktikan sebagai organisasi masyarakat keagamaan yang mampu survive, sejak pra-kemerdekaan hingga usia kemerdekaan. Pastinya, kemampuan bertahan hidup inilah menjadi salah satu potensi besar yang dipunyai NU.
Di balik kemampuannya itu, di dalam organisasi NU ada kekuatan inti yang bernama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia(PMII). Organisasi kemahasiswaan yang punya akar sejarah dan tradisi dengan NU ini, telah menemukan momentum tertingginya. Maksudnya adalah tidak hanya mengurus dirinya sendiri, tetapi juga mengurus yang lainnya.
Mengurus elemen bangsa, mengurus negara bahkan mengurus dunia. Artinya apa? PMII ke depannya harus terus membicarakan dan berpikir produktif sebagai kekuatan inti NU itu sendiri. Mampu bersinergi dengan pemerintah dalam kerja-kerja kemaslahatan.
"Mengutip pernyataan Buya Said Aqil Siroj yang mengatakan, bahwa dari pesantren kita akan mengurus dunia, memikirkan dunia."
Dengan keluasan jaringan yang dipunyai kader-kader PMII, maka saya berkeyakinan, PMII mampu mengorkestrasi kekuatan dan potensi-potensinya secara baik dan benar dengan berbagai elemen bangsa, sehingga gagasan atau cita-cita yang pernah disampaikan Gus Dur, yakni "membangun dari bawah untuk dunia" bisa diwujudkan.
NU tengah menjalani abad keduanya yang menuntut berkecimpung pada ruang-ruang yang lebih luas. Tidak lagi sebatas penjaga tradisi, mengawal pesantren, tapi menyentuh wilayah-wilayah sosial, peradaban, kekuatan moral dengan tetap mempertahankan keintelektualan. Sehingga PMII mampu menggiring NU agar tidak melulu terjebak sebatas pergantian generasi, tetapi mampu membawa NU bertarung dengan pergeseran zaman.
Kader-kader PMII harus terus membuat NU bergerak. Dengan kekuatan tradisi maka NU berkompromi, beradaptasi dengan tantangan dunia dan NU tetap menjadi jangkar moral tanpa menafikan pembacaan masa depan.