Politik spiritualisme
Agama terkadang dimanfaatkan sebagai kendaraan dan jargon politik.
“Agama akan selalu digunakan dimanapun, dia (agama) bisa untuk menggembleng masyarakat dan membenarkan kampanye, pertempuran, perang besar. Tetapi penyebab kampanye dan perang besar bukanlah tentang agama,” itulah kutipan Graham Fuller seorang analis politik Barat.
Namun pernyataan itu justru ditujukan kepada kelompok-kelompok yang menggunakan agama (hanya secara tekstual) sebagai kendaraan dan jargon politik yang biasanya ditemukan di para penganut fundamentalis agama.
Tapi akan berbeda jika nilai-nilai spiritualitas agama yang menjadi pondasi dalam berpolitik (secara tekstual dan kontekstual). Di sisi lain Fuller juga menyampaikan bagaimana Barat mendesain penghancuran pada kelompok yang menjaga amaliyah dan tradisi spiritualitas agama, alias kelompok tradisionalis agama.
Dalam sebuah analisisnya Fuller menggambarkan bagaimana Barat menskenariokan agar perkembangan Islam khususnya moderat, dilemahkan secara alamiah. Caranya adalah dengan mendegradasi nilai-nilai Islam dan perang politik para ulama.
Kemudian menghancurkan lembaga-lembaga agama (Islam) tradisional dan kultural berikut relasi-relasinya. Dengan harapan ajaran Barat menjadi referensi dan lifestyle.
Sistem Barat yang selama ini dipakai, sepertinya sudah tidak relevan.
(Depok)