Selama penguasa berwatak pemburu rente, Indonesia tetap menjadi “Sapi perah”

Adakalanya para elite entah sadar atau tidak dimanipulasi menjadi “binaan asing.”

Sonny Majid
image

Banyak dari kita kerap membicarakan bonus demografi. Namun sepanjang ini belum begitu nampak posisi strategis Indonesia yang “ngelotok”, kendati wilayahnya berada di posisi silang, ditambah basis demografi yang kuat.

Dengan kepemilikan sumber daya alam berlimpah dan posisi silang tadi, Indonesia semestinya punya daya tawar tinggi di panggung global. Namun, selama orang-orang yang diberikan kekuasaan (penguasa) bermental pemburu rente, maka sistem global akan selalu memposisikan Indonesia sebagai market place (pasar), tempat memutar kapital, distributor bahan mentah, kasarnya sapi perah lah.

Adakalanya para elite entah sadar atau tidak dimanipulasi menjadi “binaan asing” entah melalui kaderisasi (pendoktrinan terselubung), bagi-bagi rente, dan lainnya, sehingga memengaruhi watak dan perilaku saat berkuasa.

Ramainya nama Karen B. Brooks di lingkar kekuasaan misalnya, bisa memicu dugaan bahwa infiltrasi asing ke lingkar kekuasaan benar adanya. Dia disebut-sebut pernah menjadi diplomat Kedutaan AS di Jakarta, penasihat Menlu AS bahkan Clinton, bahkan sampai urusan GAM di Aceh.

Kemudian tidak malu menjadi koruptor dan cara berpikir yang munafik – kerap membolak-balikkan logika, rasionalitas publik dengan harapan menguasai alam bawah sadar lewat algoritma.

Itu semua keluar dari semangat dan harapan para leluhur yang telah mengajarkan banyak kepada kita akan pentingnya kebijaksanaan memimpin. Bisa jadi ke depan rakyat akan selalu berjibaku dengan himpitan-himpitan hidup akibat dampak kebijakan yang semena-mena, dan di singgasana para penguasa berpangku tangan sambil berhayal hidup abadi.

Baca Juga Artikel Lainnya

Lihat semua →