Selingkuh badut, bandar dan bandit politik
Tengah berlangsung perselingkuhan Imperialisme dengan politisi hitam dan bandit politik.
Kita semua dikagetkan dengan temuan Kejaksaan Agung (Kejagung) RI yang mencokok tujuh tersangka dugaan korupsi di BUMN PT Pertamina dengan modus “mengoplos” Pertalite menjadi Pertamax. Negara dirugikan hingga Rp193,7 triliun. Kelakuan para tersangka sudah berlangsung lima tahun.
Kita kembali ke perselingkuhan Imperialisme dengan politisi hitam dan bandit politik yang disebut-sebut sebagai “Teori Oligarki Kembar Tiga” atau “Teori Oligarki Hibrida,” berhadapan langsung dengan nasionalisme.
Pertama kita urai dulu “Oligarki Politik” atau dalam kurung badut politik. Arena politik dari kelompok ini adalah politik kekuasaan, dengan aktornya elite pejabat politik dimana basis kekuasaannya adalah wewenang, jabatan atau pangkat.
Tujuan politik dari kelompok ini adalah mencari keuntungan politik pibadi, keluarga dan kroni-kroninya. Mereka biasanya menyepakati/konsesi politik dengan memproteksi politik dengn mencari dukungan kebijakan politik. Kelompok ini beroperasi dengan cara-cara propaganda politik, agitasi politik, mobilisasi aparat, suap politik dengan uang, jabatan, barang, jasa sampai urusan seks. Koersi politiknya adalah teror dan intimidasi.
Gerakan kelompok pertama ini menyebabkan struktur politik tidak fungsional di dalam sistem politik.
Lanjut ke kelompok kedua, oligarki ekonomi atau orang menyebutnya sebagai bandar politik. Politik ekonomi menjadi arena politiknya yang dilakukan bersama-sama dengan para elite dan konglomerat hitam. Mereka menggunakan pengaruh kekayaannya sebagai basis kekuasaan dengan harapan mendapatkan keuntungan pribadi, keluarga dan kroni. Cara mereka memproteksi ekonomi memanfaatkan dukungan uang, barang, jasa.
Bagaimana dengan metode gerakannya? Idem dito, melalui propaganda ekonomi, agitasi ekonomi, mobilisasi modal, suap uang, barang, seks, bahkan teror.
Dampak politik dari kelompok ini adalah rapuhnya struktur di dalam sistem ekonomi.
Terakhir kelompok ketiga, oligarki sosial atau bandit politik. Arenanya politik sosial dengan melibatkan elite sosial hitam dengan basis kekuasaan status.
Tujuan politik oligarki sosial adalah meraih keuntungan sosial untuk pribadi, keluarga dan kroni-kroni. Kelompok ini akan selalu mencari dukungan massa sebagai upaya proteksi sosial. Metodenya sama, melakukan agitasi sosial, memobilisasi massa, suap sosial, status sosial, teror.
Gerakan kelompok ketiga ini menyebabkan struktur sosial terbelah di dalam sistem sosial masyarakat.