"Sibaliparriq" Mandar dan tantangan zaman
Pendidikan harus dimaknai sebagai proses pemanusiaan manusia.
Secara umum, konsepsi "sibaliparriq" dipahami sebagai kerjasama, tolong-menolong, kesetaraan, bahu-membahu antara suami istri, komunitas dalam menghadapi tantangan hidup dan mencapai tujuan bersama. Jadi tidak hanya terlihat pada nilai-nilai abstrak, tapi juga tentang keteladanan. Kerja keras adalah wujud nyata dari nilai-nilai sibaliparriq. Ia tak tak hanya terkait dengan urusan material , tetapi juga hal-hal yang sifatnya immaterial, dan tentu saja pendidikan menjadi salah satu bagian darinya. Nilai ini mencerminkan hubungan timbal-balik, artinya berat dipikul bersama, kesuksesan dirasakan bersama.
Jika pendidikan dimaknai sebagai proses pemanusiaan manusia, yang puncaknya bisa ditemukan pada diri atau masyarakat yang berpendidikan dan berbudaya, mengutip Tilaar dan Shochib, maka sudah barang tentu pendidikan dalam rumah tangga menjadi sesuatu yang sangat prinsipil, karena dari sinilah pendidikan dan pembentukan karakter manusia pertama kali dilakukan.
“La taksiru auladakum ala adabikum, faiinahum makhlukuna lizamanin gaira lizamanikum.” (Janganlah engkau memaksakan anak-anakmu sesuai dengan pendidikanmu, karena sesungguhnya mereka diciptakan untuk zaman yang bukan zaman kalian). Demikian pesan Imam Ali dalam kitab al-Imam Ali, Almukhtar Min Bayani Wa Hikamihi yang disusun oleh Syaikh Fadhlullah al-Hairi.
Pesan ini menyampaikan pentingnya orangtua memperhatikan pendidikan anak, sebab anak tidak hanya menjadi turunan biologis, tapi juga kelak akan menjadi anak zaman di masa mendatang. Makanya itu, lewat pesan tersebut, Imam Ali menekankan pentingnya pendidikan agar tidak gagap dalam menghadapi perkembangan zaman.
Pesan Imam Ali ini masih relevan dijadikan panduan, terlebih di tengah zaman yang menonjolkan hidup mewah, boros, hedonis, perilaku manusia yng buas, egois dan lainnya. Budaya siri' (malu) dan nilai-nilai agama sejatinya menjadi perisai harga diri, seolah tidak mampu membedeng ambisi manusia. Akibatnya, tampak kehidupan sebagian manusia tak ubahnya seperti binatang sebagaimana dikemukakan Ishak Ngeljaratan, budayawan Sulawesi Selatan.
Saat ini juga telah terjadi pergeseran nilai, ideologi, cara pandang. Oleh sebagian perubahan ini dianggap lumrah, namun sebenarnya tengah mengubah sendi-sendi kehidupan sosial. Kebersamaan bergeser menjadi individualis. Kian cepat akibat pengaruh kemajuan teknologi, yang menyebabkan kita semua terjebak dalam fase krisis perjumpaan.
WAHID Foundation pernah menerbitkan hasil penelitian yang menyebutkan, bahwa generasi muda berpotensi melakukan tindakan anti perdamaian dan radikalisme. Generasi muda tercerabut dari akar nilai-nilai agama, moral dan kemanusiaan. Kondisi ini bisa jadi karena hubungan orangtua dan anak tidak lagi terjadi dalam bentuk fisik apalagi soal bathiniah. Sementara orangtua memosisikan diri sebagai sahabat anak amatlah penting.
Seiring perkembangan zaman, spirit dan nilai-nilai "sibaliparriq" semakin tertantang dan tidak menutup kemungkinan, di masa mendatang warisan leluhur Mandar ini akan sirna ditelan zaman. Pada konteks inilah penting untuk menjaga tradisi dan warisan leluhur Mandar tersebut melalui keteladanan. Sebab menjaga tradisi dengan mengedepankan keteladanan jauh lebih penting dari pada seruan keteladanan.
Kerjasama, persaudaraan, kasih sayang, keihlasan, dan kepedulian terhadap sesama yang notabene menjadi inti dari nilai-nilai sibaliparriq hanya mungkin bisa hidup langgeng jika nilai-nilai tersebut terus diteladankan, khususnya dalam lingkup keluarga.
(Makassar)