Tak ada demokrasi tanpa kebebasan pers

Secara tanggungjawab sosial, media massa bisa tetap bebas dengan tetap memperhatikan kepentingan masyarakat.

Shelomitha Anisa Nuraini
image

Pada sistem demokrasi, media massa memiliki peran penting. Media massa menjadi sumber informasi bagi masyarakat mengenai kebijakan dan peristiwa politik. Selain itu, media massa ikut membentuk/menggiring opini publik dan menjadi penghubung antara pemerintah dan warga. Karena itu kebebasan pers menjadi salah satu syarat utama dalam negara demokratis.

Sistem pers pada suatu negara biasanya mengikuti sistem politiknya. Dalam sistem otoriter, media massa dikontrol pemerintah. Sedangkan pada sistem liberal, media massa memiliki kebebasan yang luas. Berbeda dengan sistem komunis yang memosisikan media massa menjadi alat negara atau partai. Secara tanggungjawab sosial, media massa bisa tetap bebas dengan tetap memperhatikan kepentingan masyarakat.

Di era orde baru, kebebasan pers sangat terbatas. Kala itu pemerintah melakukan pengawasan ketat terhadap media massa. Pemberitaan politik sering dibatasi, dan kritik terhadap pemerintah hampir tidak diberikan ruang. Media massa lebih banyak digunakan untuk mendukung stabilitas kekuasaan.

Setelah reformasi, kebebasan pers meningkat signifikan. Banyak media massa baru bermunculan dan informasi politik menjadi lebih terbuka. Media massa juga mulai menjalankan fungsi pengawasan terhadap pemerintah. Akan tetapi muncul tantang baru, seperti persaingan bisnis dan potensi bias produk pemberitaan ke publik.

Meskipun media memiliki peran penting dalam demokrasi, media massa tidak sepenuhnya netral. Media massa dapat dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi maupun politik. Media massa harus tetap menjaga independensi dan profesionalitas agar tetap berpihak kepada rakyat. 

(Imetya Syifa Azarina, Kuat Nugraha P.H, Rayanda Ving Verrell Putra)

(Yogyakarta)

Baca Juga Artikel Lainnya

Lihat semua →